Terancam Dibunuh, Yahudi Eropa Diajak Pindah Massal ke Israel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu. AP/Sebastian Scheiner

    Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu. AP/Sebastian Scheiner

    TEMPO.CO, Yerusalem - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kaum Yahudi Eropa harus bermigrasi secara massal ke Israel. Pernyataan ini menyusul peristiwa penembakan di sebuah kafe dan sinagoge di Kopenhagen, Denmark, serta kejadian serupa di toko kosher (halal, dalam istilah Yahudi) di Paris.

    “Yahudi dibunuh lagi di tanah Eropa karena mereka Yahudi,” kata pria yang biasa disapa Bibi, seperti dilaporkan Time, Senin, 16 Februari 2015. Menurut dia, kaum Yahudi berhak mendapat perlidungan di semua negara. “Tapi saya katakan kepada saudara-saudari Yahudi, Israel adalah rumah Anda.”

    Kepala Rabi Denmark, Jair Melchior, mengaku kecewa terhadap pernyataan Netanyahu. “Orang-orang dari Denmark pindah ke Israel karena mereka cinta Israel, karena Zionisme, bukan karena terorisme,” ujarnya. Dia menyebut, jika cara mengatasi terorisme dengan pergi ke tempat lain, orang harus pergi ke pulau terpencil.

    Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt juga menyatakan tidak setuju dengan ide Netanyahu. “Komunitas Yahudi adalah bagian besar dan terintegrasi dengan masyarakat Denmark.”

    Tahun lalu, lebih dari 7.000 warga Yahudi Prancis pindah ke Israel atau dua kali lipat dari jumlah pada 2013. Padahal, sebelumnya, Presiden Prancis Francois Hollande sudah berkata kepada mereka, “Tempatmu di sini. Ini rumahmu. Prancis adalah negaramu.”

    TIME | ATMI PERTIWI

    Berita Lainnya:

    Muak Eksekusi Mati, PM Australia Mau Balas Pemerintah Jokowi
    Diancam Australia, Ditekan PBB, Ini Reaksi Pemerintah Jokowi 
    Hacker Mencuri Rp 3,8 Triliun dari 100 Bank
    Teror Kopenhagen: Kartunis Penggambar Nabi Kian Terancam
    Pembuat Nutella dan Ferrero Rocher Tutup Usia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.