RI Belum Berencana Tutup Kedutaan di Yaman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir. TEMPO/Natalia Santi

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir. TEMPO/Natalia Santi

    TEMPO.CO, Jakarta -  Pemerintah Indonesia belum merasa perlu untuk menutup atau pun memindahkan kedutaan besar di Ibukota Yaman, Sanaa, meskipun beberapa negara sudah menarik semua diplomatnya. Sikap Indonesia terutama karena tidak seperti negara Timur Tengah lainnya, dari sekitar 2.600 WNI di Yaman sebagian besar pelajar dan mahasiswa.

    “Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terus memantau situasi di Yaman dengan seksama. Sampai saat ini belum ada rencana penutupan kedubes mengingat banyak WNI yang sekolah di situ,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir kepada Tempo, Rabu, 11 Februari 2015.

    Dia menambahkan saat ini jumlah diplomat beserta staf Indonesia dan keluarganya di KBRI Sanaa mencapai 38 orang. Sedangkan jumlah WNI sekitar 2.600 orang.

    Pihak KBRI Sanaa telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan sejak Januari lalu terutama bagi WNI yang tinggal di Sanaa, Maa’rib dan beberapa wilayah lain di Yaman.

    Selain meminta WNI untuk selalu membawa identitas diri, tidak terprovokasi aktivitas politik, menghindari lokasi rawan bentrokan bersenjata, KBRI juga mengimbau WNI untuk mewaspadai pemerasan yang dilakukan oknum dengan mengatasnamakan pemerintah Yaman.

    Meski tidak ada perintah evakuasi resmi, tahun lalu KBRI Yaman telah mengevakuasi 332 WNI yang merasa terancam keamanannya. Menurut situs KBRI Yaman, hingga 19 November tahun lalu evakuasi dilakukan dalam lima gelombang.

    Amerika Serikat, Inggris dan Prancis telah menyatakan menutup kedutaan besar dan menarik seluruh diplomatnya dari Sanaa, terkait situasi keamanan dan politik yang terus menurun di negara itu. Mereka juga mengimbau warganya untuk segera meninggalkan negara tersebut.

    Yaman telah berada dalam krisis selama berbulan-bulan akibat pengepungan Ibukota oleh pemberontak Houthi yang beraliran Syiah. Kondisi kian memburuk setelah mereka mengkudeta pemerintahan pekan ini.

    Perserikatan bangsa-bangsa berusaha menegahi dialog antara Houthi dan pihak lain di Yaman, sejak pemberontak membubarkan parlemen. Sebelumnya Houthi juga menyebabkan Presiden Abdrabuh Mansour Hadi mundur setelah militan mengepung rumahnya.

    Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mendesak pemberontak untuk membebaskan Presiden Hadi, Perdana Menteri Kaled Bahah dan seluruh anggota kabinet Yaman yang mereka tahan.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?