Suka Ribut Baju Tak Islami, Si Cantik Tikam Pacar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sarah Willis. dailymail.co.uk

    Sarah Willis. dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Sarah Willis, 19 tahun, gadis  yang sudah lima tahun lebih masuk Islam, menikam pacarnya yang muslim, Bilal Saddique, 29 tahun, hingga meninggal. Seperti yang diungkap dalam sidang di Pengadilan Preston, Inggris, belum lama ini, sebelumnya mereka suka ribut soal cara berpakaian.

    Sarah  yang cukup cantik ini bekerja di sebuah kantor hukum. Ia  menyebut pacarnya sebagai lelaki yang suka mengatur dan meminta dirinya menerapkan standar Islam dalam berpakaian. Bilal tidak mau Sarah memakai pakaian ketat dan pendek karena lelaki lain akan melihatnya.

    Dalam pertengkaran hebat yang terjadi pada malam hari, kata Sarah, pacarnya juga menuduh dirinya berselingkuh dengan lelaki lain. Keributan ini kemudian berakhir dengan mengenaskan. Sarah mengambil pisau dapur dan menusukannya ke Bilal. Ia kemudian berupaya menolong Bilal dengan menghentikan perdarahan, juga menelepon nomor darurat. Bilal Saddique akhirnya meninggal di Rumah Sakit Blackburn.

    Insiden yang  terjadi tahun lalu itu merupakan puncak dari hubungan mereka yang putus-sambung selama tiga tahun.  Asma Day, rekan Sarah, mengatakan Bilal selalu ingin Sarah menutupi ketat tubuhnya.

    Jaksa Francis McIntee mengatakan: “Bukti menunjukkan bahwa penusukan terjadi saat mereka bertengkar.”

    Tapi Sarah menolak disebut melakukan pembunuhan. "Aku tidak akan bisa hidup tanpa dia. Kami mengalami pasang-surut, tapi aku mencintainya. Aku tidak membunuhnya. Kami seharusnya pergi berlibur pada hari itu," ujar dia, seperti dikutip Dailymail.

    Setelah melalui persidangan yang panjang, pengadilan dengan sistem juri yang dipimpin oleh Hakim Timothy Holroyde memutuskan Sarah tidak bersalah.

    DAILYMAIL | EXPRESS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.