Mesir Hukum Mati 183 Pendukung Eks Presiden Mursi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden terguling Mesir, Mohamed Mursi berdiri dibelakang empat solidaritas Ikhwanul Muslimin di kandang di gedung pengadilan pada hari pertama persidangan, di Kairo. Morsi didakwa karena menghasut perbuatan kekerasan. REUTERS/Mesir Kementerian Dalam Negeri

    Presiden terguling Mesir, Mohamed Mursi berdiri dibelakang empat solidaritas Ikhwanul Muslimin di kandang di gedung pengadilan pada hari pertama persidangan, di Kairo. Morsi didakwa karena menghasut perbuatan kekerasan. REUTERS/Mesir Kementerian Dalam Negeri

    TEMPO.CO, Kairo - Pengadilan kriminal Giza, Mesir, menjatuhkan hukuman mati kepada 183 terdakwa kasus tewasnya sebelas polisi saat unjuk rasa terjadi di Kerdasa, Giza, pada Agustus 2013. Saat itu para pendukung mantan Presiden Mesir Mohammed Mursi menggelar unjuk rasa atas lengsernya Mursi.

    Dalam sistem hukum Kairo, seperti dikutip dari Al-Ahram, 2 Februari 2015,  putusan pengadilan Giza sudah bersifat final setelah lembaga ulama tertinggi Mesir mendukung hukuman mati pada akhir Desember lalu. (Baca: Mesir Diam-Diam Bebaskan 2 Putra Hosni Mubarak)

    Selain membunuh sebelas polisi, 183 orang itu didakwa memutilasi tubuh polisi-polisi itu dan membunuh dua warga yang berada di lokasi saat penyerangan ke kantor polisi Kerdasa terjadi. Mereka juga didakwa berupaya membunuh sepuluh polisi lain, menyabotase kantor polisi, merusak kendaraan polisi, serta memiliki senjata berat.

    Ini kedua kalinya pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman mati secara massal. Pada April 2014, pengadilan kriminal Minya menjatuhkan hukuman mati kepada 529 orang atas dakwaan membunuh polisi, melakukan aksi kekerasan, serta merusak fasilitas publik dan individu. Majelis ulama tertinggi Mesir mendukung hukuman mati itu. (Baca:683 Pendukung Ikhwanul Muslimin Dihukum Mati)

    Sebagian besar para terpidana mati ini adalah pendukung Ikhwanul Muslimin, kelompok pendukung Mursi. Presiden Abdel Fattah Saeed Hussein Khalil el-Sisi, yang menyingkirkan Mursi, menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.  

    Sejumlah organisasi hak asasi manusia, termasuk negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, mendesak Mesir menghapus hukuman mati. Namun Mesir tetap memberlakukannya.

    AL AHRAM | ALJAZEERA | MARIA RITA

    Baca juga:
    Cegah Operasi Milisi, Mesir Bangun Parit di Gaza
    Polisi Mesir Tembak Mati Lima Militan
    Jadi Agen Mossad, Pejabat Mesir Divonis Penjara
    Kanada dan Inggris Tutup Kedutaannya di Mesir


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.