Inflasi Parah, Pengganti Chavez Ini Didesak Mundur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patung replika Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ditaruh dekat perkemahan demonstran anti-pemerintah di markas PBB di Caracas, Venezuela (24/4).(AP/Fernando Llano)

    Patung replika Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ditaruh dekat perkemahan demonstran anti-pemerintah di markas PBB di Caracas, Venezuela (24/4).(AP/Fernando Llano)

    TEMPO.CO, Caracas - Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan sambil memukul panci dan wajan. Mereka memprotes kekurangan makanan dan menuntut diakhirinya masa jabatan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Ahad, 25 Januari 2015.

    Para demonstran memenuhi jalan-jalan Kota Caracas dalam rangka menentang inflasi dan kekurangan bahan pangan. (Baca: Harga Minyak Jatuh)

    Pihak oposisi mengatakan krisis ekonomi Venezuela merupakan konsekuensi dari kebijakan sosialis selama 15 tahun yang dimulai oleh pendahulu Maduro, Hugo Chavez, yang memerintah pada 1999 hingga 2013 sebelum kematiannya karena kanker.

    "Maduro harus mundur untuk Venezuela untuk bisa bersatu dalam proses rekonstruksi nasional," kata pemimpin oposisi Maria Corina Machado, seorang politikus yang dipenjara setelah kerusuhan tahun lalu. "Pemerintah harus segera diubah," kata Machado.

    "Saya protes karena di negara saya tidak ada apa pun, tidak ada makanan, tidak ada gizi, tidak ada obat-obatan," kata pengunjuk rasa, Maria Carolina Nolia.

    Dilansir Al-Jazeera, jumlah pendukung Maduro hanya 22 persen, sementara tiga perempat warga Venezuela menentangnya.

    Venezuela telah lama terjebak dalam kesengsaraan ekonomi sebelum harga minyak berubah, namun penurunan tajam harga minyak mentah membuat mereka terpukul karena 96 persen sumber devisa dari minyak.

    Menyusul penurunan harga minyak, Maduro telah melakukan perjalanan dalam beberapa hari terakhir ke Aljazair, Cina, Iran, Qatar, Rusia, dan Arab Saudi.

    Pekan ini Maduro bahkan berencana menaikkan harga bensin setempat. Harganya tak pernah naik sejak tahun 1989. Rencana ini turut memicu gelombang protes, yang sejauh ini telah menelan korban 2 ribu orang tewas.

    Pada bulan November, Caracas tidak berhasil meyakinkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), termasuk produsen utama Arab Saudi, untuk mengurangi produksi dalam rangka menghentikan penurunan harga.

    AL-JAZEERA | WINONA AMANDA


    Berita penting lain
    Bambang KPK Lapor Penangkapan ke Komnas HAM
    Begini Isi Pertemuan Tim Independen dengan Jokowi
    Jokowi Larang Ego Sektoral Kementerian
    Hatta Rajasa Batal Konsolidasi PAN di Makassar
    Paris Hilton Kembali Berlibur ke Bali


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.