Kilang Minyak Terbesar Dunia di Rusia Beroperasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Hasan Jamali

    AP/Hasan Jamali

    TEMPO.COJakarta - Kilang minyak terbesar di dunia, Berkut, mulai berproduksi secara komersial di lepas pantai Sakhalin-1 di timur jauh Rusia. Kilang minyak Berkut diharapkan mengekstrak 4,5 juta ton minyak per tahun.

    Sakhalin-1 Consortium yang dibentuk pada tahun 1996 adalah proyek besar pertama di Rusia yang dibuat dengan syarat-syarat Perjanjian Bagi Hasil (Product Sharing Agreement/PSA). 

    Konsorsium internasional ini terdiri atas proyek utama AS ExxonMobil (30 persen), Sodeco dari Jepang (30 persen), Rosneft dari Rusia (20 persen), dan ONGC Videsh dari India (20 persen). (Baca: Peringkat Kredit Rusia Diturunkan.)

    Kilang Berkut diharapkan mampu menghasilkan 12 ribu ton minyak setiap hari atau sekitar 4,5 juta ton per tahun. Hal ini akan meningkatkan total produksi Sakhalin-1 Consortium menjadi 27 ribu ton per hari.

    Total biaya proyek ini diperkirakan US$ 10-12 miliar. Angka ini membuatnya menjadi investasi asing terbesar di Rusia. Pendapatan pajak dari minyak yang diproduksi oleh kilang Berkut akan menambah anggaran daerah dan federal Rusia sekitar US$ 9 miliar selama sepuluh tahun ke depan.

    Pengeboran Berkut dirancang untuk bekerja dalam kondisi Arktik yang berat, memiliki pasokan listrik sendiri, dan dapat bekerja bahkan ketika suhu turun hingga minus 44 derajat Celsius. Es terapung setebal hingga 2 meter tidak dapat merusak rangka bawahnya. Kilang ini pun dapat menahan gempa berkekuatan 9 dan gelombang tinggi hingga 18 meter. (Baca: Doktrin Baru Militer Rusia: NATO Ancaman Utama.)

    Bidang seluas 60 kilometer di lepas pantai itu menyimpan 72 juta ton minyak yang dapat diperbarui. Rusia juga sedang mengembangkan pengeboran minyak lain yang dibangun khusus untuk itu.

    Amerika Serikat dan Uni Eropa menargetkan sanksi atas proyek-proyek minyak besar Rusia di Arktik dan Siberia. Sanksi itu berupa perlarangan perusahaan minyak asing menyediakan teknologi atau peralatan untuk usaha patungan di perairan dalam dan proyek lepas pantai. Namun pengeboran dipastikan akan berlanjut meski sanksi itu dikeluarkan.  

    RUSSIAN TIMES | WINONA AMANDA

    Baca juga:
    Houthi Kuasai Istana Presiden Yaman
    Di Instagram, Christina Unggah Tindik Payudara
    Tabrakan Maut, Christopher Terancam Bui 15 Tahun
    SBY Larang Eks-Menterinya Kritik Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.