Fox News Mohon Maaf pada Umat Islam di Eropa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita membawa poster bertuliskan:

    Seorang wanita membawa poster bertuliskan: " Saya seorang muslim, saya di sini untuk bersimpati" pada pemakaman Bernard Verlhac ( Tignous), di Paris, 15 Januari 2015. AP/Christophe Ena

    TEMPO.CONew York - Stasiun televisi yang berbasis di Amerika Serikat, Fox News, meminta maaf atas kesalahan pernyataan mereka mengenai umat Islam. Pernyataan itu membuat Perdana Menteri Inggris David Cameron dan semua stasiun televisi Prancis ikut mengkritik Fox News. (Baca: Pekerjakan Imigran Ilegal, Menteri Inggris Mundur.)

     "Pekan lalu, kami mengudarakan pernyataan salah yang perlu disesali mengenai populasi Islam di Eropa, terutama Inggris dan Prancis," kata penyiar berita Julie Banderas. 

    Penyebab permintaan maaf itu adalah pernyataan komentator terorisme di Fox News, Steve Emerson, yang berbunyi, terdapat lingkungan dan kota tertentu yang dipenuhi penduduk muslim dengan jumlah besar, sehingga polisi pun tidak bisa memasukinya. Emerson juga mengatakan, di tempat-tempat seperti itu pula, terdapat "polisi syariat" yang memukul dan melukai siapa pun yang berpakaian tidak sesuai dengan syariat.

    Pernyataan itu membuat Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan Emerson "sangat bodoh" dan sejumlah televisi Prancis melayangkan surat elektronik kepada Fox News, menyerukan stasiun TV yang berpusat di New York City itu segera meminta maaf. (Baca: Tiga Bandara New York Dibuka Kembali.)

    WINONA AMANDA | MEDIAITE

    Terpopuler
    Terpicu Charlie Hebdo, Sutradara Prancis Mualaf
    Bocah Ini Memprotes Tuhan di Depan Paus Fransiskus 
    Jokowi Tak Mempan Dilobi Raja dan PM Belanda 
    Video Polisi Mirip Norman Kamaru Heboh di YouTube 
    Intel Cina Curi Desain Pesawat Tempur F-35  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.