Teror Guncang Belgia, Dua Terduga Teroris Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antrian panjang masyarakat Paris di Pigalle, sebuah kios penjual surat kabar. 3 juta ekslemplar koran Charlie Hebdo di cetak, setelah serangan terhadap kantor berita Charlie Hebdo. 14 Januari 2015. Aurelien Meunier/Getty Images

    Antrian panjang masyarakat Paris di Pigalle, sebuah kios penjual surat kabar. 3 juta ekslemplar koran Charlie Hebdo di cetak, setelah serangan terhadap kantor berita Charlie Hebdo. 14 Januari 2015. Aurelien Meunier/Getty Images

    TEMPO.CO, Verviers - Aparat kepolisian Belgia menembak mati dua terduga teroris dalam baku tembak dalam operasi penggagalan rencana teror. Namun pihak berwenang mengatakan operasi tersebut tidak berhubungan dengan teror di Paris, Prancis, yang menewaskan 17 orang.

    Seorang terduga teroris lain ditangkap seusai baku tembak di Kota Verviers, perbatasan Belgia-Jerman, ini. Aksi teror ini diduga melibatkan orang-orang yang telah kembali dari perjalanan jihad di Suriah. 

    Polisi melakukan sekitar selusin pencarian di Brussels dan sekitarnya. "Sekitar sepuluh orang, beberapa di antaranya baru kembali dari Suriah, diperkirakan meluncurkan serangan teror yang signifikan di Belgia," kata Thierry Werts dari kantor jaksa federal Belgia di Brussels. (Baca: Teror di Paris, Al-Qaeda Klaim Bertanggung Jawab.)

    "Dalam operasi, tersangka menembaki pasukan khusus polisi dengan senjata otomatis. Mereka melepaskan tembakan selama beberapa menit. Dua tersangka tewas dan yang ketiga ditangkap."

    Kantor kejaksaan federal Belgia mengatakan operasi berlangsung hingga Jumat pagi dan penangkapan lebih lanjut sedang direncanakan.

    Setelah melakukan pertemuan darurat dengan para pemimpin lembaga keamanan, Perdana Menteri Belgia Charles Michel mengatakan operasi itu menunjukkan tekad Belgia memerangi orang-orang yang hendak menyebarkan teror.

    Pihak berwenang Belgia mengumumkan peringatan keamanan dengan mengatakan rencana yang digagalkan itu telah dirancang menargetkan polisi.

    Menurut laman media Joods Actueel, pemimpin komunitas Yahudi di negara itu memutuskan membatalkan kelas dan menutup sekolah di Antwerp dan Brussels pada Jumat, 16 Januari 2015, setelah mereka diberitahu bahwa mereka menjadi sasaran potensial.

    Tidak ada polisi atau warga sipil yang terluka dalam operasi di kota dengan populasi muslim yang besar yang jaraknya sekitar 125 kilometer dari Brussels ini.

    Dalam rekaman video yang ditampilkan di televisi Belgia, tembakan dan ledakan terdengar selama beberapa menit dan api berkobar di lokasi kejadian. Werts menjelaskan, pelaku yang sudah terbaring dengan luka tembak masih terus menembak.

    "Saya mendengar dua ledakan. Saya pergi, kemudian saya melihat dua pemuda berlari, sosoknya seperti orang Arab, usianya antara 25 dan 30 tahun. Mereka melesat dalam gelap dengan topi wol di kepala mereka," ucap Yilmaz, 41 tahun, warga setempat, kepada surat kabar Libre Belgique.

    Redouane, 65 tahun, warga Belgia keturunan Maroko, mengatakan, "Orang-orang ketakutan. Mereka tidak bisa meninggalkan rumah mereka. Ada teroris di Verviers.... Saya dan istri saya tidak bisa tahan lagi." Warga setempat lain mengatakan "senapan mesin menembak selama sekitar 10 menit".

    Sekitar 325 orang telah meninggalkan Belgia untuk bertempur bersama Negara Islam dan kelompok-kelompok lain di Irak dan Suriah. Terduga teroris yang dibidik di Verviers telah diawasi sejak kembali dari Suriah seminggu lalu. Mereka diyakini akan melancarkan serangan. (Baca: Teror di Paris, Ini Cerita Warga Indonesia.)

    Aparat penegak hukum Belgia mengatakan belum menemukan kaitan antara rencana teror ini dengan di serangan Paris. Tapi pada Kamis, 15 Januari 2015, penyidik menaruh curiga terhadap seorang pria Belgia yang diduga memasok senjata kepada pelaku penyerangan terhadap supermarket Yahudi di Paris, Amedy Coulibaly.

    Pria bernama Neetin Karasular itu telah membeli mobil milik kekasih Coulibaly, Hayat Boumeddiene. Hayat diketahui melarikan diri dari Prancis ke Suriah.

    Karasular menyerahkan diri ke polisi pada Selasa lalu. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Coulibaly beberapa bulan terakhir ini. Belakangan ia takut setelah terjadi serangan di Paris.

    Para penyidik menyatakan telah menemukan dokumen di rumah Karasular yang membuktikan bahwa ia bernegosiasi dengan Coulibaly tentang sejumlah senjata, termasuk pistol Tokarev, jenis senjata yang digunakan dalam serangan ke sebuah supermarket Yahudi di Paris.

    Adapun pihak berwenang Spanyol membuka penyelidikan pada Kamis, 15 Januari 2015, tentang kunjungan Coulibaly dan Boumeddiene ke Madrid sesaat sebelum serangan berlangsung.

    NEWS.COM.AU | WINONA AMANDA

    Baca juga:
    Bahas Budi Gunawan, KPK Bertemu Jokowi
    Surya Paloh: Kalau Saya Jokowi, Budi Saya Lantik  
    Kisah Rani, Kurir Narkoba Jelang Hukuman Mati


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.