Ini 3 Terorisme Fenomenal oleh Pelaku Kakak-Adik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto pencarian Cherif Kouachi dan Said Kouachi, tersangka penyerangan kantor media Charlie Hebdo di Paris, dipublikasi kepolisian pada 8 Januari 2015.  REUTERS/Paris Prefecture de Police/Handout via Reuters

    Foto pencarian Cherif Kouachi dan Said Kouachi, tersangka penyerangan kantor media Charlie Hebdo di Paris, dipublikasi kepolisian pada 8 Januari 2015. REUTERS/Paris Prefecture de Police/Handout via Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo dilakukan oleh kakak beradik. Ini mengingatkan pada sejumlah serangan terorisme yang mengguncang dunia dan dilakukan oleh saudara kandung. Berikut ini tiga peristiwa dan kakak beradik yang jadi pelakunya.

    1. Serangan Charlie Hebdo Paris: Said dan Cherif

    Kepolisian Prancis telah mengidentifikasi dua penyerang kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis, pada Rabu, 7 Januari 2015. Dikutip dari Daily Mail pada Kamis, 8 Januari 2015, pasukan anti-terorisme Prancis mengidentifikasi mereka bersembunyi di Reims, kota yang ada di timur laut Paris. (Baca: 'Pembalasan Nabi', Penyerang Charlie Hebdo Terekam)

    Kedua orang tersebut adalah Said Kouachi, 34 tahun, dan Cherif Kouachi, 32 tahun. Keduanya diketahui bersembunyi bersama Hamyd Mourad, 18 tahun. Pada Rabu malam, pasukan anti-terorisme langsung memburu mereka. (Baca: Solidaritas Artis Hollywood untuk Charlie Hebdo)

    NBC News melaporkan pasukan antiteror sudah menangkap dua dari tiga orang tersebut. "Satu tewas," tulis NBC News mengutip pernyataan dari seorang pasukan antiteror Amerika. Namun pernyataan ini belum dikonfirmasi otoritas kepolisian Paris.

    2. Bom Boston: Tamerlan dan Dzhokhar

    Bersama kakaknya, Tamerlan Tsarnev, Dzhokhar meledakkan bom panci dalam acara Boston Marathon pada 15 April 2013. Lebih dari 260 orang terluka dan 3 orang tewas. Tamerlan turut tewas saat polisi melakukan pengejaran, sedangkan Dzhokhar ditemukan bersembunyi di sebuah perahu dengan keadaan terluka.

    Ayah tersangka bom Boston, Anzor Tsarnaev, menangis ketika mendengar anak keduanya, Dzhokhar Tsarnaev, merupakan tersangka peledakan bom Boston. Dengan bahasa Rusia, Anzor bicara kepada ABC News yang berisi pesan kepada anaknya. Anzor bicara kepada ABC dari kediamannya di Makhachkala, Dagestan, Rusia. Ia menelepon anaknya ketika bom meledak dalam acara lomba maraton di Boston, 15 April lalu. "Saya mengkhawatirkan mereka," kata Anzor. Lalu, anak-anaknya bilang, 'Semuanya baik-baik saja'."

    3. Bom Bali: Amrozi dan Ali Ghufron

    Amrozi dan Ali Ghufron alias Mukhlas dihukum mati karena terbukti meledakkan bom di Bali pada 12 Oktober 2002. Mereka kakak beradik dari Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bom Bali menewaskan 202 orang dan melukai 209 orang dari banyak kewarganegaraan.

    TEMPO.CO | SUNUDYANTORO

    Baca berita lainnya:
    Menteri Jonan: Kenapa Saya Harus Tunduk pada Singapura?

    10 Kartun Charlie Hebdo yang Kontroversial

    Jonan: Dirjen Perhubungan Udara Bubarkan Saja

    PKL Beri Amplop Lurah Susan, Apa Reaksinya?

    Penyerang 'Pembalasan Nabi' Charlie Hebdo Tewas  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.