Kasus Charlie Hebdo, WNI di Paris Khawatir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wartawan dan pendukung kebebasan pers tunjukkan poster bertuliskan

    Wartawan dan pendukung kebebasan pers tunjukkan poster bertuliskan "Je Suis Charlie (Saya Charlie)" dalam pertemuan untuk memberikan penghormatan bagi para korban serangan teror terhadap surat kabar Prancis Charlie Hebdo, di Paris, di luar gedung The Foreign Correspondents, di Hong Kong, 8 Januari 2015. AP/Vincent Yu

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Indonesia yang berada di Paris, Aishanatasha Adisasmita, 23 tahun, mengutuk keras penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo di Prancis. Aisha khawatir serangan tersebut dapat mencederai hubungan baik sesama warga, terutama di Kota Paris.

    "Selama ini, saya diperlakukan baik oleh orang-orang Prancis. Semoga saja sikap mereka tak jadi buruk karena mereka tahu saya muslim," kata Aisha saat dihubungi Tempo, Kamis, 8 Januari 2015. (Baca juga: Profil Charlie Hebdo yang Diserang di Prancis)

    Pada Rabu, 7 Januari 2017, sebanyak sebelas orang tewas, di antaranya seorang jurnalis, dan sepuluh lainnya terluka dalam peristiwa penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo. Sebelum terjadi tembakan, Charlie Hebdo baru saja mencuit tentang kartun pemimpin kelompok milisi Negara Islam (IS/ISIS), Abu Bakr al-Baghdadi, di Twitter. Majalah mingguan tersebut tercatat beberapa kali beroleh ancaman karena memuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad SAW dan beberapa sketsa yang memunculkan kontroversi. (Baca juga: Charlie Hebdo Diserang, Pena dan Rokok Bicara)

    Aisha menuturkan karikatur yang dibuat oleh Charlie Hebdo adalah suatu bentuk ekspresi yang seharusnya tak disalahartikan. Wanita yang juga besar dalam keluarga muslim ini menyayangkan dalih pelaku penembakan, yakni membalas dendam apa yang para kartunis buat terhadap Nabi Muhammad SAW.

    Adapun saat penembakan, dia sedang berada di kampusnya. Dia lalu menuju rumah temannya yang terletak tepat di depan Place de la Republique. Ketika aksi damai dimulai, dia dan temannya ikut berunjuk rasa dengan pendemo lainnya. Sekitar 15 menit, dia ada di sana.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA

    Berita lain:
    Penyerang 'Pembalasan Nabi' Charlie Hebdo Tewas 

    Yogyakarta Bicara Hotel dan Kampung di Belakangnya

    Menteri Anies: Soal UN Harusnya seperti GRE  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?