Serangan 'Pembalasan Nabi', Kesaksian Warga Paris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melihat kantor berita Perancis, Charlie Hebdo yang telah dijaga ketat oleh petugas keamanan usai terjadi serangan dua orang bersenjata di kantor berita Perancis, Charlie Hebdo di Paris, 7 Januari 2015. (AP Photo)

    Warga melihat kantor berita Perancis, Charlie Hebdo yang telah dijaga ketat oleh petugas keamanan usai terjadi serangan dua orang bersenjata di kantor berita Perancis, Charlie Hebdo di Paris, 7 Januari 2015. (AP Photo)

    TEMPO.CO, Paris - Warga Paris, Prancis, masih syok dengan penyerangan kantor majalah Charlie Hebdo pada Rabu, 7 Januari 2015. Kepada Tempo, Sebastian Zebrowski, warga Paris yang berusia 23 tahun, mengaku ini adalah kasus kekerasan terburuk yang pernah dia lihat selama tinggal di Ibu Kota Prancis itu.

    "Kami syok, polisi, dan tentara ada di seantero Paris. Kawasan perbelanjaan, wisata, stasiun, halte, dan tempat umum lainnya tak luput dari pengawasan," kata Zebrowski saat dihubungi pada Kamis, 7 Januari 2015. (Baca: Penyerang 'Pembalasan Nabi' Charlie Hebdo Tewas)

    Kandidat master hubungan internasional di Universitas Sciences Po (Institut Ilmu Politik) Paris ini mengatakan semua warga membicarakan hal yang sama, baik di kereta, di jalan, kafe, kampus, atau kantor. Mereka menyerukan perasaan yang sama, kaget dan was-was terhadap keamanan Paris. "Kami tahu bahwa kejadian ini bisa terjadi pada siapa pun, jadi kami lebih waspada saat ini," ujarnya,

    Zebrowski tinggal tak jauh dari Menara Eiffel. Butuh sekitar 20 menit menggunakan metro jika ingin menuju ke kawasan Richard Lenoir, tempat majalah Charlie Hebdo berkantor. Tapi, ketatnya pengawasan polisi masih terasa hingga ke kawasan tempat tinggalnya. "Polisi sepertinya tak mau kecolongan." (Baca: Charlie Hebdo Diserang, Polri Minta Media Waspada)

    Saat Charlie Hebdo diserang, Zebrowski baru saja mendarat selepas terbang dari Kota Warsawa, Polandia. Saat mendarat di Bandara Charles de Gaulle, sejumlah tentara terlihat mulai ikut memperketat keluar-masuk pengunjung bandara. "Kondisinya jadi tak nyaman, tapi kami tetap harus melanjutkan hidup," kata dia.

    Kantor Charlie Hebdo diserang pada Rabu siang, saat anggota redaksi menggelar rapat. Dari 12 korban tewas, salah satunya adalah kartunis dan editor Charlie Hebdo, Stephane Carbonniere. Penembakan ini terjadi setelah Charlie Hebdo mengunggah karikatur pemimpin kelompok militan Negara Islam (IS/ISIS), Abu Bakar al-Baghdadi, di Twitter.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA

    Berita Terpopuler
    Ekor Air Asia Ditemukan, Penyelam Kehabisan Oksigen
    Ekor Air Asia Ditemukan di Dasar Laut
    Sindir ISIS, 11 Pekerja Majalah Tewas Ditembak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.