Anggota ISIS Beberapa Kali Bocorkan Persembunyian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • unrealstudio.com

    unrealstudio.com

    TEMPO.CO, Kanada - Insiden membocorkan lokasi persembunyian tanpa sengaja oleh anggota ISIS lewat media sosial ternyata tak hanya dilakukan oleh Mark Taylor--anggota ISIS dari Selandia Baru--saja. Menurut pemerhati keamanan cyber, Ibrabo, insiden seperti yang dialami Taylor sudah terjadi berulang kali. (Baca: Asyik Nge-tweet, Anggota ISIS Gagal Ngumpet)

    "Taylor bukan orang pertama yang melakukan kecerobohan ini. Faktanya, di Suriah, kami menemukan beberapa pejuang asal Kanada dan Prancis melakukan hal yang sama," ujar Ibrabo sebagaimana dikutip dari situs Daily Mail, 31 Desember 2014.

    Ibrabo melanjutkan, serangkaian kecerobohan ini akan sangat membantu pemerintah melacak dan kemudian menindak anggota-anggota ISIS. Ia berkata, keterangan-keterangan di media sosial tersebut bisa dijadikan dasar oleh pemerintah dalam membangun dasar jeratan hukum terhadap pejuang-pejuang di Suriah.

    Ibrabo menambahkan, cuitan-cuitan Taylor akan menjadi bukti pemerintah untuk menjeratnya, bila kembali ke Selandia Baru. "Dia berusaha mencari popularitas di media sosial, namun kecerobohannya malah makin menegaskan dia anggota ISIS," ujarnya.

    Sebelumnya diberitakan, Mark Taylor alias Abu Abdul-Rahman dengan cerobohnya membocorkan persembunyiannya di Suriah via serangkaian tweet dengan geotag (penanda lokasi). Ia baru menyadari kecerobohannya setelah menulis 45 cuitan.

    Taylor, yang menggunakan akun Twitter @M_Taylor_Kiwi, kemudian buru-buru menghapus tweet-nya. Tapi tweet-tweet tersebut telah disimpan oleh Ibrabo, sebelum dihapus.

    ISTMAN MP | DAILY MAIL

    Berita Terpopuler:
    Penumpang Melahirkan di Pesawat, Tujuan Delta Air Dialihkan
    Madinah Dibangun, 12 Ribu Orang Menganggur
    Israel Desak Mahkamah Kejahatan Tolak Palestina
    Macet Tahun Baru, Bekas Presiden Batal Bebas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.