Arroyo Minta Maaf Tapi Menolak Mundur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Manila: Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo meminta maaf kepada publiknya. Ia mengaku telah menelepon komisi pemilihan umum pada pemilihan presiden tahun lalu, tapi membantah telah berkonspirasi memanipulasi hasilnya.Ini adalah pernyataan pertama setelah tekanan politik menyerang Arroyo untuk mundur. Ia dituduh telah berkonspirasi dengan komisi pemilihan umum, atau Comelec, guna memanipulasi hasil pemilihan. Tuduhan ini muncul setelah beredar rekaman percakapan wanita bersuara mirip Arroyo dengan anggota Comelec. Pada pidatonya sore tadi, ia tidak mengakui atau membantah suara dalam rekaman itu.Ia hanya mengakui menelepon anggota komisi pemilihan. "Saya saat itu sangat khawatir terhadap perolehan suara saya, dan berbicara dengan banyak orang, termasuk pejabat Comelec," kata Arroyo pada pernyataan yang disiarkan jaringan televisi nasional, Senin (27/6)sore.Ia mengaku tidak bermaksud memengaruhi hasil pemilihan. Ia juga meminta maaf karena terlalu lama tidak menjelaskan kasus ini. "Saya bertanggung jawab terhadap tindakan saya," tuturnya.Namun, Arroyo menolak mundur dari jabatannya. Dikatakannya, saat dia menghubungi anggota Comelec, "hasil pemilihan telah diprediksikan oleh setiap jajak pendapat". Pemilihan, kata dia, juga dinilai berlangsung secara bebas dan adil oleh pengamat internasional.Arroyo mengklaim telah membuat kemajuan pada agenda reformasinya. Untuk itu ia meminta publik untuk bergerak maju. "Untuk itu, saya ingin menutup bab ini dan beralih ke urusan pemerintahan," tuturnya. AFP

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.