Rubel Anjlok, Apple Tutup Toko Online-nya di Rusia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagian luar pusat kesenian Yerba Buena tempat peluncuran iPhone 5 dan iPod terbaru produksi Apple di San Francisco, California (12/9).  REUTERS/Beck Diefenbach

    Bagian luar pusat kesenian Yerba Buena tempat peluncuran iPhone 5 dan iPod terbaru produksi Apple di San Francisco, California (12/9). REUTERS/Beck Diefenbach

    TEMPO.CO, Moskow - Apple telah menghentikan penjualan secara online seluruh produknya ke Rusia. Penghentian ini dipicu oleh nilai tukar rubel terhadap dolar Amerika Serikat yang turun drastis hingga 20 persen pada awal pekan ini.

    "Karena nilai tukar rubel yang fluktuasinya ekstrem, toko online kami di Rusia baru saja ditutup. Bersamaan dengan itu, kami merevisi harga," kata Apple dalam pernyataannya yang dilansir Guardian, Rabu, 17 Desember 2014.

    Di laman toko online-nya, Apple kemudian menampilkan kalimat "Kami akan kembali" dalam sejumlah bahasa untuk memberitahukan kepada konsumennya tentang penutupan toko.

    Ini merupakan kedua kalinya perusahaan yang berkantor di California itu menutup toko online-nya di Rusia. Pada akhir November lalu, Apple menutup toko online-nya selama sekitar 24 jam sebelum membukanya kembali dengan harga barang yang naik sekitar 20-25 persen dari harga sebelumnya.  

    Warga Rusia merupakan penggemar gadget produksi Apple. Sebelum krisis keuangan menerjang Rusia, para konsumen bersiap melakukan pembelian iPhone model terbaru. Jumlah konsumen Rusia yang tertarik membeli produk Apple terbaru itu melebihi jumlah konsumen di Amerika Serikat.

    GUARDIAN | MARIA RITA


    Baca juga:
    Milan Ingin Tukar Torres dengan Cerci

    Pertamina dan Pemerintah Rapat soal Subsidi

    Begini Pembubaran Nonton Film Senyap di AJI Yogya

    BBM Kilang Pertamina Lebih Mahal dari Impor


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.