Kamp Konsentrasi Nazi, Menebar Kengerian di Eropa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gerbang utama dari bekas kamp konsentrasi di Dachau, Jerman, terlihat tanpa pintu bertuliskan slogan Nazi

    Gerbang utama dari bekas kamp konsentrasi di Dachau, Jerman, terlihat tanpa pintu bertuliskan slogan Nazi "Arbeit macht frei" yang dicuri, Senin 3 November 2014. REUTERS/Michael Dalder

    TEMPO.CO, Jakarta - Penemuan kapal selam U-168 milik Jerman di laut Jawa menguak adanya hubungan antara Indonesia dan militer Nazi pada Perang Dunia II. Di Eropa, ternyata ada orang Indonesia yang bersentuhan dengan kekejaman tentara fasis Nazi.

    Dia adalah Parlindoengan Loebis (1910-1994), seorang dokter yang berada di Belanda pada era Perang Dunia II. Dalam otobiografi berjudul Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi, Parlindoengan bercerita soal kengerian yang dirasakan selama dalam tahanan, yang lazim disebut kamp konsentrasi. (Baca: Tahanan Nazi Asal Indonesia Berebut Makan Bangkai Kuda.)

    Ketua Perhimpoenan Indonesia Belanda periode 1936-1940 ini diciduk tentara Nazi pada akhir Juni 1941. Pada era itu, Perhimpunan Indonesia di Belanda gencar melawan fasisme Jerman. Parlindoengan lantas ditahan di dua kamp, yakni Amersfoort di Belanda dan Buchenwald di Jerman.

    Sejak dimulainya agresi ke negara-negara Eropa, Nazi membangun ratusan kamp konsentrasi yang tersebar di hampir seluruh negara di Benua Biru itu. Bekas tangsi militer, gudang kosong, dan istana kuno dijadikan tempat tahanan lawan politik Adolf Hitler. (Baca: Benarkah Hitler Sesungguhnya Hidup di Sumbawa?)

    Satu yang paling terkenal adalah Kamp Auschwitz di Polandia. Nazi mendirikan Auschwitz di tepi Kota Oswiecim. Sekeliling kamp dipasangi kawat berduri beraliran listrik tegangan tinggi. Ruang terbesar dalam bangunan kamp Auschwitz dioperasikan sebagai kamar gas pada musim gugur 1941.

    Auschwitz merupakan kamp konsentrasi terbesar, yang terdiri atas Auschwitz I, Auschwitz II-Birkenau, dan Auschwitz III-Monowitz. Jumlah korban di Auschwitz pada 1940-1945 diperkirakan 1,1-1,5 juta orang, yang sebagian besar adalah keturunan Yahudi. Lebih dari 50 persen tawanan mati karena kelaparan, kerja paksa, kerusuhan dalam kamp, epidemi, hukuman, dan siksaan.

    TIM TEMPO

    Berita Terpopuler
    Siapa 10 Kepala Daerah Pemilik Rekening Gendut? 
    Inikah Transaksi Rekening Gendut Foke? 
    Tokoh Ini Lindungi Masuknya Kapal Nazi ke Jakarta

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.