Insiden Kapal Oryong, Satu WNI Diduga Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menlu RI, Retno Marsudi (kiri), dan Menlu Singapura, K. Shanmugam, sebelum pertemuan bilateral di Singapura, 26 November 2014. FOTO: Sesmenlu RI

    Menlu RI, Retno Marsudi (kiri), dan Menlu Singapura, K. Shanmugam, sebelum pertemuan bilateral di Singapura, 26 November 2014. FOTO: Sesmenlu RI

    TEMPO.CO, Jakarta - Satu warga negara Indonesia dilaporkan tewas dalam insiden tenggelamnya kapal Oryong 501 di Selat Bering, Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, mengatakan pagi tadi dua jenazah ditemukan tim pencari.

    "Salah satunya diduga WNI," kata Michael di Kementerian pada Rabu, 3 Desember 2014. Informasi tersebut diperoleh dari ciri fisik yang disampaikan tim pencari. Ia belum bisa mengkonfirmasi identitas korban meninggal karena konsulat Indonesia di Rusia belum tiba di lokasi. Menurut dia, perwakilan Indonesia akan tiba sore hari ini waktu setempat.

    Michael mengaku masih mengumpulkan data identitas para WNI yang ikut dalam kapal berbendera Korea Selatan tersebut. Kementerian sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengumpulkan data.

    Kapal ikan milik Sajo Industries tersebut berbobot 1.700 ton dan membawa 60 awak, terdiri atas 35 ABK asal Indonesia, 13 ABK dari Filipina, dan 11 ABK asal Korea Selatan. Kapal ini berlayar ke Selat Bering dengan kondisi cuaca buruk. Saat itu angin bertiup kencang, yakni sebesar 20 mil per detik, dan suhu minus 20 derajat Celsius. 

    Tiga ABK dari Indonesia selamat. Michael menuturkan mereka yang selamat masih dirawat di kapal khusus. "Belum merapat, jadi tidak ada keterangan identitas," ujarnya. 

    SYAILENDRA

    Berita Terpopuler:
    Gubernur FPI Fahrurrozi Menunggak Iuran Warga
    KPK Iming-imingi Suryadharma Ali Diskon Hukuman
    Fuad Amin: Dugaan Ijazah Palsu sampai Suap Migas  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.