3 Cerita Manis dan Pahit Malaysia di Era Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersiap meninggalkan aula VIP Lancang Kuning Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau, Rabu, 26 November 2014. Jokowi akan meninjau lokasi bekas kebakaran lahan gambut di Kepulauan Meranti, Riau. ANTARA/Rony Muharrman

    Presiden Joko Widodo bersiap meninggalkan aula VIP Lancang Kuning Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau, Rabu, 26 November 2014. Jokowi akan meninjau lokasi bekas kebakaran lahan gambut di Kepulauan Meranti, Riau. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO , Jakarta: Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla baru berlangsung sebulan lebih. Keduanya dilantik sebagai presiden dan wakil presiden di gedung DPR/MPR pada 20 November 2014.

    Di masa pemerintahannya yang baru seumur jagung itu, sejumlah riak-riak terjadi dalam hubungan dengan Malaysia. Inilah tiga hal terkait Jokowi yang mengusik negeri Jiran itu.

    Pertama, soal kebijakan menenggelamkan kapal nelayan Malaysia yang menerobos perairan Indonesia. Media online Malaysia, Utusan.com, menilai Jokowi ingin terkesan melakukan konfrontasi dengan negeri jiran dengan kebijakannya itu.

    Dalam artikel berjudul "Maaf Cakap, Inilah Jokowi", media tersebut bahkan menyebut Jokowi sebagai pemimpin angkuh. "Ini seolah-olah memperlihatkan Jokowi memilih pendekatan konfrontasi, bertentangan dengan gambaran yang diberikan sebelum ini. Tetapi tidak dinafikan sebahagian besar rakyat Indonesia berbudaya dan tatasusila tingg," tulisan media itu. (Baca: Media Jiran: Jokowi Pakai Jurus 'Ganyang Malaysia')

    Kedua, soal klaim tiga desa di Kecamatan Lumbis Ongong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Pada pertengahan bulan ini, diberitakan ada sekitar 54 hektare wilayah di Sumantipal, Sinapad, dan Kinokod yang  menjadi sengketa antara Indonesia dan Malaysia.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan isu klaim Malaysia atas tiga desa itu bisa mengancam kedaulatan Indonesia. "Ya, pasti mengancam kedaulatan. Kami bisa bicarakan secara baik dengan Malaysia," kata JK pada 14 November 2014. (Baca: JK: Klaim Malaysia di Nunukan Ancam Kedaulatan)

    Ketiga, kekaguman pada sosok Jokowi yang merakyat. Kekaguman itu sudah ditunjukkan sejumlah pengamat asal Negeri Jiran itu sejak Jokowi masih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

    Pada 11 Februari 2014, misalnya, kolumnis Malaysia, Syed Nadzri Syed Harun, menulis di koran The Malay Mail dengan judul  "Wanted badly: A Malaysian Jokowi". Nadzri menilai negara itu memerlukan sosok pemimpin baru seperti Jokowi yang lebih mementingkan kerja nyata dibanding mengurusi kepentingan politik. “Jokowi bahkan mau masuk ke gorong-gorong dan mengunjungi daerah kumuh serta berbicara dengan rakyat miskin tentang akses kesehatan dan pendidikan.” (Baca: Usir Kapal, Kata Media Malaysia Jokowi Alihkan Isu)

    TIM TEMPO | NURDIN SALEH

    Berita Lain
    Jurus Saling Kunci Jokowi dengan Koalisi Prabowo 

    Ruhut: Demokrat Tolak Dukung Hak Interpelasi 

    Tiga Momen Kedekatan Jokowi dan Menteri Susi

    Alasan Akbar Cs Sarankan Penundaan Munas Golkar  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.