Selangkah Lagi Rusia Kuasai Wilayah Georgia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara relawan memegang bunga pemberian keluarga sebelum dikirim untuk bergabung dengan batalyon khusus unit tempur melawan separatis pro-Rusia, di Kiev, Ukraina, 26 Agustus 2014. (AP/Efrem Lukatsky)

    Tentara relawan memegang bunga pemberian keluarga sebelum dikirim untuk bergabung dengan batalyon khusus unit tempur melawan separatis pro-Rusia, di Kiev, Ukraina, 26 Agustus 2014. (AP/Efrem Lukatsky)

    TEMPO.CO, Tbilisi - Menteri Luar Negeri Georgia menyatakan Rusia selangkah lagi secara de facto menganeksasi wilayah yang memisahkan diri dari negerinya setelah Moskow menandatangani kesepakatan dengan Abkhazia.

    Dalam butir kesepakatan yang diteken Presiden Vladimir Putin dan pemimpin Abkhazia, Raul Khadzhimba, Senin, 24 November 2014, disebutkan bahwa pasukan Rusia dan Abkhazia akan berada dalam satu wilayah untuk membentuk pasukan gabungan di bawah komando Rusia.

    Langkah ini menimbulkan kecurigaan negara-negara Barat terhadap Presiden Vladimir Putin yang sebelumnya telah menganeksasi Crimea, Ukraina, di semenanjung Laut Hitam pada Maret 2014. "Saya yakin kerja sama, persatuan, dan kemitraan strategis antara Rusia dan Abkhazia akan terus menguat," ucap Putin.

    Pasukan Rusia berada di Abkhazia selama lebih dari dua dekade sejak kawasan berpenduduk 240 ribu itu memisahkan diri dari Georgia dalam sebuah perang separatis di awal 1990-an.

    Perjanjian yang ditandatangani kedua pemimpin pada Senin, 24 November 2014, merefleksikan bahwa Moskow selanjutnya akan meningkatkan kehadiran pasukannya setelah ada perubahan kepemimpinan di wilayah tersebut.

    Bekas pemimpin Abkhazia, Alexander Ankvab, sebelumnya dipaksa turun tahta awal 2014 di bawah tekanan unjuk rasa yang dilaporkan dimotori oleh Kremlin. Khadzhimba, seorang bekas pejabat dinas intelijen KGB Uni Soviet, terpilih menjadi presiden pada pemungutan suara Agustus 2014. Namun hasil pemilu tersebut ditolak Georgia karena dianggap ilegal.

    Tak seperti Ankvab yang menolak tekanan Moskow agar Rusia diperbolehkan membeli aset di Abkhazia, Khadzhimba justru lebih suka mendengarkan keinginan Rusia. "Perjanjian dengan Rusia menjamin keamanan kami sepenuhnya serta pembangunan sosio-ekonomi," kata Khadzhimba.

    Hubungan Rusia-Georgia memanas akibat perang pada Agustus 2008 setelah bekas Presiden Georgia Mikheil Saakashvili mencoba mengontrol kembali wilayah yang memisahkan diri, Ossetia Selatan. Selanjutnya pasukan Rusia memukul mundur tentara Georgia dalam perang lima hari tersebut. Tak lama kemudian, Moskow mengakui kemerdekaan dua negara yang memisahkan diri dari Georgia.

    AL JAZEERA | CHOIRUL 

    Berita lain:
    Polling Tokoh TIME, Peringkat Jokowi di 7 Besar
    Peta Kekuatan Interpelasi Jokowi di DPR
    Jokowi: Puluhan Kali BBM Naik Tidak Interpelasi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?