Thailand Larang Buku Jurnalis Inggris Ini Beredar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sxc.hu

    Sxc.hu

    TEMPO.CO, Bangkok - Polisi Thailand telah melarang penjualan dan peredaran buku karya jurnalis lepas asal Inggris, Andrew McGregor Marshall, yang bertajuk A Kingdom in Crisis. Isi buku itu dinilai mencemarkan nama baik keluarga kerajaan.

    "Isi buku itu menghina, mencemarkan, dan mengancam Raja Thailand," kata Kepala Kepolisian Thailand Somyot Poompanmoung, Kamis, 13 November 2014. Buku yang diterbitkan oleh Zed Books, berkantor di London, sebulan lalu itu dianggap membahayakan keamanan nasional, perdamaian, dan ketertiban masyarakat Thailand.

    Somyot menegaskan siapa saja yang melanggar peraturan tentang larangan buku itu dijual dan diedarkan di Thailand akan dihukum penjara selama 3 tahun dan membayar denda 60 ribu baht atau setara US$ 1.800.

    Andrew, penulis buku, lewat akun Twitter-nya merespons larangan peredaran buku itu di Thailand. "Terima kasih banyak kepada polisi kerajaan Thailand yang melarang buku saya, A Kingdom in Crisis, terbitan ZedBook. Hebat untuk pengumuman itu!"

    Buku Andrew memuat secara mendalam politik di Thailand, termasuk isu-isu tabu tentang suksesi raja.

    Thailand merupakan negara yang dianggap paling ketat di dunia dalam memberlakukan aturan pelecehan atau pencemaran nama baik raja dan keluarganya. Setiap orang yang melecehkan, menghina, atau mencemarkan nama Raja Bhumibol Adulyadej, 86 tahun, ratu, anak-anak, dan keluarganya akan dijatuhi hukuman maksimal 15 tahun penjara.  

    CHANNEL NEWS ASIA | MARIA RITA


    Baca juga:
    Kuartal III, Defisit Transaksi Berjalan US$ 6,8 M

    Berburu Barang Murah di 'Pasar Kaget' Kota Oxford

    Belasan Hotel di Yogya Diperiksa Izin Penggunaan Air Tanah

    Jampidsus Widyo Dilaporkan ke Mabes Polri




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.