Abbas Tuduh Hamas Gagalkan Rekonsiliasi Nasional  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Palestina Mahmoud Abbas. REUTERS/Mohamed Torokman

    Presiden Palestina Mahmoud Abbas. REUTERS/Mohamed Torokman

    TEMPO.CO, Gaza - Presiden Palestina Mahmud Abbas menuduh pasukan Hamas melakukan "penghancuran" rekonsiliasi nasional dengan melakukan serangan bom di Jalur Gaza, pekan lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Abbas dalam pidato peringatan kematian mantan pemimpin Palestina Yasser Arafat pada Selasa, 11 November 2014.

    "Para pemimpin Hamas adalah yang bertanggung jawab atas ledakan di Gaza. Mereka mencoba mensabotase dan menghancurkan proyek nasional di Palestina," kata Abbas, seperti dilaporkan Channel News Asia, kemarin. (Baca: Abbas Ancam Hentikan Kesepakatan dengan Hamas)

    Awal tahun ini, kedua kelompok gerakan nasionalis menandatangani perjanjian rekonsiliasi dengan tujuan mengakhiri tujuh tahun persaingan di Tepi Barat dan Gaza yang dipimpin oleh pemerintahan yang terpisah. Kesepakatan itu memicu pembentukan pemerintah kosensus nasional yang bermarkas di Ramallah, yang sebelumnya dikuasai Hamas.

    Tuduhan itu langsung dibantah oleh Hamas. Juru bicara kelompok Mushir al-Masri mengatakan ucapan Abbas itu bohong. "Pidato Abbas adalah bentuk penghinaan dan tidak jelas. Palestina butuh pemimpin yang berani, bukan pembohong," kata Al-Masri. (Baca: Israel Nekat Bangun 600 Rumah Yahudi di Palestina)

    Abbas juga menuduh kelompok itu memicu ketegangan di Al-Aqsa selama empat bulan terakhir. Untuk itu, Abbas juga akan membuat keputusan tegas untuk membela Al-Aqsa dan gereja-gereja terhadap ekstremis dan pemukiman.

    RINDU P. HESTYA | CHANNEL NEWS ASIA

    Berita Lain:
    Pakaikan Mantel ke Istri Jinping, Putin Dikritik 
    Pidato Jokowi Terbanyak Ditonton, Kalahkan Obama
    Korea Utara Boikot KTT ASEAN di Myanmar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?