AS dan Rusia Sepakat Tukar Informasi Soal Ukraina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerrika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin meninggalkan tempat pertemuan usai melakukan pertemuan dalam G8 Summit di Lough Erne, Enniskillen, Irlandia Utara, Senin (17/6). REUTERS/Kevin Lamarque

    Presiden Amerrika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin meninggalkan tempat pertemuan usai melakukan pertemuan dalam G8 Summit di Lough Erne, Enniskillen, Irlandia Utara, Senin (17/6). REUTERS/Kevin Lamarque

    TEMPO.CO, Beijing - Berkali-kali saling cibir, Amerika Serikat dan Rusia akhirnya sepakat bertukar informasi mengenai situasi perbatasan Rusia-Ukraina. Kesepakatan itu dibuat saat Menteri Luar Negeri AS John Kerry bertemu dengan Menteri Luar Rusia Sergei Lavrov dalam acara Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Beijing, pekan lalu.

    "Kami memiliki beberapa fakta yang berbeda di lapangan terkait dengan masalah Ukraina. Kami telah sepakat untuk bertukar beberapa informasi tentang masalah itu, dan kami juga akan menggelar dialog," kata Kerry, seperti dilaporkan Euronews, Sabtu, 8 November 2014. (Baca: Rusia Intervensi Ukraina, Apa Tindakan Amerika?)

    Keputusan itu juga dinilai positif oleh Rusia. Lavrov menuturkan keterlibatan AS dalam menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina akan menjadi langkah yang benar untuk tujuan yang baik. "AS harus mencegah 'pemimpin panas' di Ukraina yang ingin melanjutkan konflik dengan para pemberontak," kata Lavrov.

    Sementara itu, Lavrov melaporkan, kondisi Rusia-Ukraina saat ini sedang aman, menyusul suasana gencatan senjata yang telah disepakati antara pemberontak dan pemerintah. Namun, saat ditanya soal kabar serbuan militer Rusia ke Ukraina timur pada pekan ini, Lavrov hanya tertawa dan menilai laporan itu hanya rekayasa. (Baca: Amerika Ingatkan Cina Agar Tidak Meniru Rusia)

    "Bahkan juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, mengatakan pihak Departemen Luar Negeri tidak bisa mengkonfirmasi hal ini. Nah, jika Psaki tidak berkomentar, saya juga tidak," ujar Lavrov.

    Sebelumnya, AS sempat tidak setuju atas campur tangan Rusia dalam konflik di Ukraina. Bahkan AS mengancam akan meminta Uni Eropa untuk bergabung dan memberikan sanksi berat kepada Presiden Vladimir Putin.

    Sementara itu, Rusia sendiri meminta Amerika Serikat tidak terlibat terlalu jauh terkait dengan konflik di wilayah perbatasan Ukraina. Rusia juga menolak "kekuasaan satu negara" yang diklaim oleh AS.

    RINDU P. HESTYA | EURONEWS

    Berita Lain:
    Jokowi Berharap Hubungan Cina-Indonesia Lebih Konkret
    Baghdadi, Pemimpin ISIS, Terluka Parah
    Menlu: Kehadiran Jokowi di Sejumlah KTT Penting


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.