Ukraina Kirim Pasukan Tambahan ke Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk, berdiri diatas kendaraan perang saat menginspeksi di markas militer di Lviv, barat Ukraina, 22 Oktober 2014. AP/Andrew Kravchenko

    Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk, berdiri diatas kendaraan perang saat menginspeksi di markas militer di Lviv, barat Ukraina, 22 Oktober 2014. AP/Andrew Kravchenko

    TEMPO.CO, Kiev – Presiden Ukraina Petro Poroshenko memerintahkan pengiriman pasukan tempur tambahan ke wilayah timur guna menghadapi gerakan para pemberontak yang telah menguasai sejumlah teritori negara. “Unit pasukan tambahan itu untuk mempertahankan kota-kota yang masih dikuasai pemerintah dan menghadapi kemungkinan serbuan pemberontak,” ujar Poroshenko, Selasa, 4 November 2014.

    Sikap keras Poroshenko tersebut disampaikan setelah para pejabat keamanan Ukraina mengeluh bahwa Rusia telah mengintensifkan pengiriman pasukan dan peralatan militer kepada pemberontak separatis dalam beberapa pekan ini. Namun demikian tudingan pejabat Ukraina itu dibantah Moskow.

    “Kami telah membentuk unit-unit baru pasukan tempur guna menghadapi kemungkinan serangan di kawasan Mariupol, Berdyansk, Kharkiv, serta daerah di sebelah utara Luhansk dan Dnipropetrovsk,” tutur Poroshenko sebagaimana disampaikan dalam website presiden.

    Ketegangan kian meningkat sejak akhir pekan ini ketika pemberontak menggelar jajak pendapat yang berisi kutukan terhadap Barat dan Ukraina yang dianggap melakukan tindakan melawan hukum dan sumber ketidakstabilan wilayah. Ukraina dan sejumlah pemerintahan Barat mengatakan bahwa jajak pendapat pada Ahad, 2 November 2014, sangat membahayakan gencatan senjata yang telah disepakati. Sebaliknya Rusia sangat mendukung pemilihan umum di wilayah tersebut.

    Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan sikap ketidaknyamanannya atas apa yang dia sebut sebagai peran Rusia dalam konflik internal di Ukraina. Menurut Merkel, Selasa, 4 November 2014, tidak alasan bagi Uni Eropa untuk memberikan sanksi kepada Moskow.

    Merkel mengatakan dia berharap ada solusi diplomatik untuk memecahkan krisis Ukraina tetapi, dia menambahkan, pemungutan suara menunjukkan betapa sulitnya memegang kesepakatan yang telah dibuat jika kita melihat ada pemilihan umum melanggar hukum.

    Pada Selasa pagi, 4 November 2014, waktu setempat, pemimpin sparatis di Donetsk, Alexander Zakharchenko, 38 tahun, diambil sumpahnya sebagai pemimpin di kawasan tersebut. Dia dilantik di sebuah gedung di Kota Donetsk, daerah yang dikuasai oleh sparatis Republik Rakyat Donetsk, dengan penjagaan sangat ketat.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Berita lain:
    Jokowi Gandeng 20 Investor Infrastruktur
    Sebelum Jadi Menteri, Kekayaan Jonan Rp 23 Miliar
    Raden Nuh @TrioMacan2000 Akui Terima Rp 300 Juta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.