Turki Panggil Dubes Jerman Soal Karikatur Erdogan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tayyip Erdogan. REUTERS/Umit Bektas

    Tayyip Erdogan. REUTERS/Umit Bektas

    TEMPO.CO, Istanbul - Kementerian Luar Negeri Turki, Senin, 3 November 2014, memanggil duta besar Jerman untuk menerima protes keras atas munculnya karikatur Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang digambarkan sebagai seekor anjing dalam buku pelajaran sekolah.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan kepada kantor berita AFP, Duta Besar Jerman untuk Turki Eberhard Pohl dipanggil lantaran sebuah kartun dalam buku sekolah yang beredar di Basden Wuerttemberg.

    Menurut sejumlah laporan, kartun itu diambil dari sebuah artikel koran Frankfurter Allgemeine Zeitung edisi Minggu yang menggambarkan Erdogan sebagai seekor anjing penjaga dengan gigi tajamnya. Dalam kartun itu ada tulisan "Erdogan".

    Kartun sarkasme berjudul Warga Turki di Jerman, Kisah Sukses ini digunakan di dalam buku pelajaran SMA dalam mata pelajaran ilmu-ilmu sosial. "Kami mengutuk keras atas munculnya kartun dalam buku pelajaran sekolah karena telah menghina Presiden dan semua warga Turki yang tinggal di Jerman," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri.

    Erdogan kerap mendapatkan kritik karena tidak memberikan toleransi terhadap kartun-kartun yang menghina dirinya. Bahkan pelakunya diseret ke pengadilan.

    Musa Kart, seorang kartunis anti-Erdogan dari koran Cumhurriyet, bulan lalu harus mendekam dalam penjara karena dituduh menghina Presiden. Pada 2005, saat Erdogan menjabat sebagai perdana menteri, dia menggugat sebuah majalah karena dirinya dikartunkan dalam bentuk gajah, jerapah, monyet, dan beberapa binatang lainnya di bawah judul Dunia Tayyip.

    AL ARABIYA | CHOIRUL

    Berita lain:
    Danau Toba Masih Mengandung Magma Cair
    Wanita Ini Jatuh Cinta dengan Pendonor Sperma
    PDIP Ingatkan Ahok Jangan Sombong  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.