Dua WNI Terjebak Kisruh Politik di Burkina Faso  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendemo menjarah barang-barang dari gedung parlemen saat aksi massa menolak pencalonan kembali presiden Blaise Compaore di Ouagadougou, Burkina Faso, 30 Oktober 2014.  REUTERS/Joe Penney

    Pendemo menjarah barang-barang dari gedung parlemen saat aksi massa menolak pencalonan kembali presiden Blaise Compaore di Ouagadougou, Burkina Faso, 30 Oktober 2014. REUTERS/Joe Penney

    TEMPO.CO, Abuja - Dua warga negara Indonesia (WNI) terjebak dalam situasi bergolak di negara Afrika Barat, Burkina Faso. Keduanya, Agus Mulyana dan Bandhu Hermawan, karyawan perusahaan minyak, terjebak kerusuhan dan penjarahan akibat pergolakan politik di negeri itu akhir pekan lalu.

    Mereka adalah karyawan Zatropa Oil Company di Fada-N'Gourma, perusahaan Indonesia yang berpatungan dengan sebuah perusahaan asing yang beroperasi di Singapura. (Baca: Diprotes, Presiden Burkina Faso Tolak Mundur)

    Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abuja, Nigeria, yang membawahi sejumlah negara di Afrika Barat, termasuk Burkina Faso, tengah mengupayakan evakuasi kedua WNI dari negara yang sedang bergolak tersebut. (Baca: Rakyat Burkina Faso Lengserkan Presidennya)

    "Saat ini kedua WNI itu berada di Hotel 11 Decembre yang berlokasi di Kota Fada-N'Gourma, Burkina Faso, dalam keadaan aman dan sehat wal afiat," kata Lutfi Anggara, Sekretaris III KBRI Abuja, dalam siaran pers yang diterima Tempo, Selasa, 4 November 2014. (Baca: Gedung Parlemen Burkina Faso Dibakar Massa)

    Mengingat lokasi Kota Fada-N'Gourma yang dekat dengan perbatasan Republik Benin, KBRI Abuja berkoordinasi dengan Konsul Kehormatan (Konhor) RI di Cotonou, Benin, yaitu Madame Roumane Toukourou. Rencananya, kedua WNI akan keluar dari wilayah Fada-N'Gourma ke kota terdekat, yakni Kota Terma (bagian utara Benin).

    "Namun, situasi saat ini masih mencekam dan belum menentu. Perbatasan Burkina Faso dan Benin juga ditutup sehingga keduanya belum dapat dievakuasi," Lutfi menjelaskan.

    Jika situasi sudah kondusif, maka keduanya akan dievakuasi dari Cotounou, Republik Benin, menuju Jakarta.

    Pergolakan politik di Burkina Faso terjadi setelah Presiden Blaise Compaore mundur. Sebelumnya, terjadi demonstrasi besar-besaran menolak amendemen konstitusi yang bisa mengekalkan kekuasaan. Presiden Blaise telah berkuasa selama 27 tahun. Namun, alih-alih menyerahkan kepada ketua parlemen sesuai konstitusi, militer malah mengambil alih kekuasaan.

    Perserikatan Bangsa-bangsa, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan partai oposisi di Burkina Faso mengutuk langkah tersebut dan mendesak militer mengembalikan kekuasaan ke tangan sipil. Namun pemerintahan militer pimpinan Letnan Kolonel Isaac Yacouba Zida bergeming.

    NATALIA SANTI

    Terpopuler:
    PSK Indonesia Dibunuh di Apartemen Mewah Hong Kong
    ISIS Buka Lowongan Kerja Manajer Minyak
    Pembunuh PSK Indonesia Diadili Hari Ini
    Profil Pembunuh PSK Indonesia di Hong Kong


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.