Jumat, 14 Desember 2018

ETAN Sesalkan Jokowi Pilih Ryamizard Jadi Menhan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. ANTARA/Andika Wahyu

    Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi yang memantau kasus Timor Leste dan Indonesia yang berkantor di New York, Amerika Serikat, East Timor and Indonesia Action Network (ETAN), mengecam keputusan Presiden Joko "Jokowi" Widodo karena memilih Ryamizard Ryacudu sebagai Menteri Pertahanan. Koordinator ETAN, John M. Miller, menilai pemilihan Ryamizard  sebagai menteri menunjukkan Jokowi tidak serius dengan janjinya untuk mempromosikan hak asasi manusia atau menjangkau Papua Barat.

    "Dia (Ryamizard) adalah warisan masa lalu dengan riwayat pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan tentara, mengancam pengkritik HAM, dan mencampuri urusan sipil," kata Miller dalam rilis pers yang diterima Tempo, Senin, 27 Oktober 2014.

    ETAN juga menulis saat berkampanye Jokowi terlihat menyambut positif upaya untuk menegakkan keadilan bagi pelanggaran HAM di masa lalu. Jokowi juga berjanji akan membuat dialog dengan Papua Barat. (Baca: Dijerat Kasus HAM,Ryamizard:Mengapa Baru Sekarang?)

    Dalam rilis itu, dikutip pula perbincangan Ryamizard dengan majalah Time. Dalam wawancara itu, Ryamizard mengaku mengawasi pelaksanaan darurat militer di Aceh pada Mei 2003 yang telah menewaskan ratusan nyawa.

    "Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Isu keadilan, agama, otonomi, kesejahteraan sosial, dan pendidikan bukanlah urusan militer Indonesia," kata Ryamizard saat itu.

    Dalam wawancara yang sama, pria 64 tahun ini juga berkata, "Pasukan saya mengeksekusi anak-anak yang tidak bersenjata. Jika mereka bersenjata, mereka akan ditembak karena anak-anak dan wanita juga bisa membunuh". (Baca: Pengamat Sesalkan Jokowi Pilih Ryamizard)

    Memilih Ryamizard, kata Miller, sama saja dengan memutuskan hubungan masa lalu atas pelanggaran HAM. "Kurangnya akuntabilitas untuk masa lalu dan pelanggaran HAM yang berlangsung dapat mengancam kemajuan masyarakat dalam jangka panjang," kata Miller.


    RINDU P. HESTYA

    Berita Lain:

    Pemilu Ukraina, Tiga Wilayah Tak Ikut Serta
    AS dan Inggris Akhiri Invasi di Afganistan
    ISIS Vs Kurdi Tewaskan 815 Orang di Kobane


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.