Mantan Perdana Menteri Australia Meninggal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tony Abbott menghadiri pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI ke-7, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin 20 Oktober 2014. AP/Mark Baker

    Tony Abbott menghadiri pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI ke-7, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin 20 Oktober 2014. AP/Mark Baker

    TEMPO.CO, Melbourne - Bekas Perdana Menteri Australia, Gough Whitlam, yang dikenal sebagai seorang pembawa kemajuan bangsa meninggal dunia pada usia 98 tahun.

    "Ayah kami, Gough Whitlam, telah meninggal dunia pagi ini pada usia 98 tahun," kata anak-anak Whitlam, yakni Antony,  Nicholas, Stephen, dan Catherine, dalam sebuah pernyataan kepada media massa, Senin, 20 Oktober 2014. "Beliau seorang ayah yang penuh cinta kasih dan murah hati sekaligus menjadi sumber inspirasi buat kita, keluarga kami, serta jutaan rakyat Australia."

    Whitlam, seorang reformis dari Partai Buruh Australia, mengambil kekuasaan dalam sebuah pemilihan umum pada 1972. Namun, pada 1975, dia didepak oleh Gubernur Jenderal Sir John Kerr mewakili monarki Inggris untuk menjadi kepala negara.

    Peristiwa ini untuk pertama kalinya, sejak federasi Australia berdiri pada 1901, seorang gubernur jenderal mendepak pemimpin pemerintahan hasil dari sebuah proses demokrasi.

    Perdana Menteri Tony Abbott menyebut Whitlam sebagai "seorang raksasa pada zamannya" dan menginstruksikan kepada seluruh warga Australia mengerek bendera setengah tiang.

    Meskipun memegang kekuasaan hanya tiga tahun, Whitlam berhasil meluncurkan reformasi ekonomi dan kebudayaan bagi rakyat Australia serta menjadi salah seorang pemimpin yang paling dihormati di Australia.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Berita Terpopuler
    Surat Terbuka Anas Urbaningrum untuk Jokowi
    Pelantikan Presiden: SBY Menangis, Jokowi Kaku
    Misteri Amien Rais yang Absen di Pelantikan Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.