Pria Ini Tak Punya Peralatan Elektronik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peter Lloyd, pria yang mengalami electromagnetic hypersensitivity (EHS), kondisi di mana ia tidak bisa berdekatan dengan perangkat elektronik. Mirror.co.uk

    Peter Lloyd, pria yang mengalami electromagnetic hypersensitivity (EHS), kondisi di mana ia tidak bisa berdekatan dengan perangkat elektronik. Mirror.co.uk

    TEMPO.CO, Cardiff - Peter Lloyd adalah salah satu pemuda yang tinggal di Cardiff, Inggris. Meski hidup di negara maju, Peter tidak bisa merasakan teknologi di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena Peter mengalami penyakit langka bernama electromagnetic hypersensitivity (EHS), kondisi di mana ia tidak bisa berdekatan dengan perangkat listrik, termasuk ponsel, TV, dan kamera.

    "Pengalaman pertama saya adalah saat saat berusia 20-an. Saat itu pandangan saya kabur dan pusing saat melihat layar komputer. Saya seperti mati rasa, tidak bisa berpikir dan bicara. Saat itulah saya sadar bahwa tubuh saya sangat sensitif dengan perangkat elektronik," kata Peter, seperti dilaporkan Mirror.co.uk, Kamis, 16 Oktober 2014.

    Dengan kondisi tersebut, pria 42 tahun ini menghabiskan hidupnya di rumah. Ia tidak bisa berjalan ke luar karena frekuensi rendah dari ponsel atau sinyal WiFi akan membuatnya pusing. Bahkan, saat jurnalis Mirror ingin mengambil foto Peter, mereka tidak boleh menggunakan lampu flash dan menggunakan kamera sekali pakai. (Baca: Kondisi Langka, Bayi Ini Bisa Terbakar Sendiri)

    Ketika malam tiba, Peter akan menyalakan lilin organik di sekitar kamarnya. Beruntung adiknya, Stephen, selalu membantu Peter. Stephen juga meminta salah satu anggota parlemen setempat untuk membantu mengkampanyekan pembuatan pondok kayu yang aman untuk kakaknya dan penderita EHS lainnya.

    "Saya sudah membaca banyak artikel untuk mencari informasi tentang gejala ini. Sebenarnya saya ingin mencoba bertahan dari penyakit ini, tapi kondisinya semakin buruk," kata Peter.

    Sebutan EHS semakin dikenal pada 1989 untuk menggambarkan sensitivitas penderita pada energi magnetik dan medan listrik. Pada 1930-an, istilah EHS juga diberikan pada orang yang sensitif pada gelombang radio dan radar militer

    Sensitivitas pasien EHS dilaporkan semakin kuat sejak 1980 pada ponsel dan perangkat nirkabel. Bahkan, pada awal 2000, pasien EHS juga mulai peka terhadap sinyal WiFi. Hingga saat ini, masih sedikit dokter yang paham tentang cara pencegahan dan pengobatan untuk pasien EHS.

    RINDU P. HESTYA | MIRROR.CO.UK

    Berita Lain:
    Rehana, Pembasmi ISIS, Dikabarkan Tewas
    Ratusan Pejuang ISIS di Kobane Tewas Dibom AS
    29 Tahun Dibui, Pria AS Ini Ternyata Tak Bersalah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.