Bantu Kurdi, Geng Motor Belanda Perangi ISIS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tentara wanita Kurdish Peshmerga melakukan baris berbaris jelang melakukan latihan untuk melawan kelompok ISIS di Sulaimaniya, Irak, 18 September 2014. REUTERS

    Sejumlah tentara wanita Kurdish Peshmerga melakukan baris berbaris jelang melakukan latihan untuk melawan kelompok ISIS di Sulaimaniya, Irak, 18 September 2014. REUTERS

    TEMPO.CO, Den Haag - Tak hanya mendapat bantuan dari militer yang dipimpin Amerika Serikat, pasukan Kurdi Peshmerga yang berjuang melawan gempuran militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), juga mendapat bantuan dari geng motor terbesar di Belanda, No Surrender. (Baca: Kurdi Ambil Alih Bukit di Kobane dari Tangan ISIS).

    Kisah tentang geng motor itu menjadi sumber kehebohan setelah foto-foto mereka muncul di media sosial. Ketua No Surrender, Klaas Otto, mengungkapkan kepada televisi Belanda NOS bahwa tiga anggota  mereka yang berperang di Mosul, utara Irak, berasal dari Amsterdam, Rotterdam, dan Breda.

    Sementara itu, kepada BBC, Kamis, 16 Oktober 2015, Juru Bicara Kejaksaan Belanda, Wim de Bruin mengakui sudah mengetahui hal tersebut. Namun, bergabung dengan angkatan bersenjata asing sudah tidak lagi dianggap ilegal di Belanda. “Yang penting tidak berperang melawan Belanda,” kata de Bruin.

    Lain halnya jika mereka bergabung dengan ISIS. Sebab, kelompok ini sudah dikelompokkan sebagai organisasi teroris. Tak hanya dengan ISIS, warga Belanda yang ingin bergabung dengan Partai Rakyat Kurdi (PKK) juga dilarang. PKK dianggap teroris oleh Turki dan beberapa negara lainnya.

    Dalam sebuah rekaman video yang diduga berasal dari sebuah stasiun milik Kurdi terlihat seorang pria Eropa bersenjata berujar dalam bahasa Belanda, “Warga Kurdi sudah begitu lama menderita dalam penindasan.”

    ANINGTIAS JATMIKA | BBC

    Terpopuler

    Jadi Selingkuhan, Wanita Ini Ditelanjangi 
    Jokowi Jadi Cover Majalah Time 
    Soal ISIS, AS dan Rusia Berbagi Info Intelijen



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.