Mayang Disebut Tak Pernah Ubah Identitasnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mayang Prasetyo. Facebook.com

    Mayang Prasetyo. Facebook.com

    TEMPO.CO, Bandar Lampung - Keluarga Mayang Prasetyo alias Febri Ardiansyah, 27 tahun, korban mutilasi oleh kekasihnya di Brisbane, Australia, mengaku tidak pernah mengubah dokumen identitas kependudukan milik korban. Data diri korban di dokumen kartu keluarga, kartu tanda penduduk, dan paspor sesuai dengan saat lahir. "Termasuk identitas kelamin, dalam dokumen tetap mencantumkan laki-laki bukan perempuan," kata Nining Sukarni, 45 tahun, orang tua korban, kepada Tempo, Selasa, 7 Oktober 2014. (Baca: WNI Korban Pembunuhan di Australia Diduga Transgender)

    Menurut Nining, sifat kewanitaannya semakin menjadi ketika memasuki masa remaja. ketika itu, Mayang lebih banyak bergaul dengan komunitas waria di Salon Tri yang tidak jauh dari kediamannya. Di kampung halamannya, Mayang lebih dikenal dengan sapaan Ebi alias Ebong. Ebong panggilan akrab dari kawan sebayanya. Nama itu merupakan gabungan dari "Ebi" dan "Bencong". "Dia tidak pernah marah dipanggil bencong. Justru semakin memperlihatkan sifat wanitanya jika diledek dengan nama itu," ujar Nining.

    Menurut Nining, Mayang lahir di Jalan Onta, Kelurahan Sukamenanti, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, pada 13 Februari 1987. Sejak bayi, dia sudah ditinggal Nuryanto, bapaknya, yang kini belum diketahui keberadaannya. "Sejak kecil, dia diasuh neneknya. Saya hanya melahirkan dia lalu pergi menikah dengan pria asal Palembang sebelum kembali berkumpul, karena saya bercerai dengan suami kedua saya," tutur Nining. (Baca: Mayang Prasetyo Terinspirasi Mayangsari)

    Mayang tewas dibunuh dan dimutilasi oleh kekasihnya, Marcus Peter Volke, berkebangsaan Australia di Brisbane. Keduanya diketahui bekerja sebagai juru masak di kapal pesiar dan tengah menikmati liburan di rumah mereka di Brisbane setelah berpesiar ke beberapa negara. Mengutip laporan harian The Courier Mail, Senin, 6 Oktober 2014, jasad korban ditemukan polisi pada Sabtu, 4 Oktober 2014. (Baca: WNI Jadi Korban Mutilasi Pacarnya di Australia)

    Penemuan tersebut didasari laporan warga yang mengeluhkan bau busuk dari apartemen yang dia tempati bersama Volke. Volke lantas ditemukan meninggal beberapa ratus meter dari lokasi apartemennya dengan luka sayatan di bagian leher beberapa saat setelah polisi menggerebek rumah itu. Diduga, Volke bunuh diri. (Baca: Mayang Sebut Dirinya Waria Kelas Atas Asia

    NUROCHMAN ARRAZIE



    Berita Terpopuler:
    JK Bantah Mega Tidak Mau Bertemu SBY
    Investor Tunggu Sikap Politik Megawati
    Rupiah Jeblok bila Koalisi Prabowo Kuasai MPR
    Soal Pilkada DPRD, Gubernur PDIP Ini Lapor PBB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.