Mayang Prasetyo di Mata Teman Salonnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mayang Prasetyo. Facebook.com

    Mayang Prasetyo. Facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Masa remaja Febri alias Mayang banyak dihabiskan di sebuah salon kecantikan yang tidak jauh dari kediamannya. Di tempat itu dia biasa berkumpul bersama dengan komunitas sesama waria. "Orangnya heboh. Kalau datang bawaannya ramai dan pinter menghidupkan suasana," kata Joko, teman Mayang di salon itu, kepada Tempo di Bandar Lampung, Selasa, 7 Oktober 2014. (Baca: WNI Korban Pembunuhan di Australia Diduga Transgender)

    Joko mengatakan setiap pulang dari Bali, menurut Joko, Febri selalu menyambangi rekan-rekannya di salon tersebut. Di Lampung, kata dia, hanya ada tiga tempat yang selalu disambangi. "Rumah kontrakan orang tuanya, nenek Rusmani, di Jalan Onta dan salon ini," tutur Joko. (baca: Mayang Prasetyo Terinspirasi Mayangsari)

    Rekan-rekannya di Jalan Onta, Bandar Lampung, tidak ada yang mengetahui secara pasti pekerjaan Febri setelah berganti kelamin. Setiap ditanya, kata dia, Febri hanya mengaku bekerja di pub dan bar di Australia. "Dia pekerja keras dan ulet," ucap Joko. (Baca: WNI Jadi Korban Mutilasi Pacarnya di Australia)

    Mayang tewas dibunuh dan dimutilasi oleh kekasihnya, Marcus Peter Volke, yang berkebangsaan Australia di Brisbane. Keduanya diketahui bekerja sebagai juru masak di kapal pesiar dan tengah menikmati liburan di rumah mereka di Brisbane setelah berpesiar ke beberapa negara. (Baca: Mayang Sebut Dirinya Waria Kelas Atas Asia)

    Mengutip laporan harian The Courier Mail, Senin, 6 Oktober 2014, jasad korban ditemukan polisi pada Sabtu, 4 Oktober 2014. Penemuan ini didasari pada laporan warga yang mengeluhkan bau busuk dari apartemen yang Mayang tempati bersama Volke. Volke lantas ditemukan meninggal beberapa ratus meter dari lokasi apartemennya dengan luka sayatan di bagian leher beberapa saat setelah polisi menggerebek rumah itu. Diduga, Volke bunuh diri. (Baca: Dibunuh, Jaringan Prostitusi Mayang Diselidiki)

    NUROCHMAN ARRAZIE

    Berita Terpopuler:
    JK Bantah Mega Tidak Mau Bertemu SBY
    Investor Tunggu Sikap Politik Megawati
    Rupiah Jeblok bila Koalisi Prabowo Kuasai MPR
    Soal Pilkada DPRD, Gubernur PDIP Ini Lapor PBB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.