Ibu Mayang Hanya Bisa Tunggu Jenazah Anaknya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mayang Prasetyo. Facebook.com

    Mayang Prasetyo. Facebook.com

    TEMPO.CO, Lampung - Nining Sukarni, 45 tahun, warga Kelurahan Sukamenanti, Bandar Lampung, berharap Pemerintah Republik Indonesia segera memulangkan jenazah anaknya, Febri Adriansyah alias Mayang Prasetyo, yang jadi korban mutilasi dari Australia. (Baca: WNI Korban Pembunuhan di Australia Diduga Transgender)

    Dia mengaku akan terus menunggu jenazah anaknya dalam bentuk apa pun. "Akan saya tunggu di sini. Saya tidak mungkin berangkat ke Australia," kata Nining Sukarni saat ditemui di rumah kontrakannya di Gang Star, Jalan Panglima Polim, Bandar Lampung, Selasa, 7 Oktober 2014.

    Sejumlah utusan Kementerian Luar Negeri RI, Konsulat Jenderal RI di Australia, dan Polda Lampung sudah menemui dan menanyakan sejumlah dokumen dan hubungan Febri dengan Marcus Peter Volke. Selama ini, kata dia, hubungan suami-istri sesama jenis itu akur dan tidak ada masalah. 

    "Setahun lalu dia mengenalkan Marcus dan lelaki itu sangat baik. Setiap ada pertengkaran, Febri selalu cerita ke saya seperti kasus hilangnya anjing kesayangannya beberapa waktu lalu. Mereka bertengkar hebat," kata Nining. (Baca: Mayang Sempat Mengajak Kekasihnya ke Lampung)

    Perempuan paruh baya yang tak kuasa menahan kesedihannya itu berulang kali mengucapkan pasrah dengan apa yang menimpa anak sulungnya. Dia tidak pernah membayangkan anak lelaki satu-satunya itu tewas mengenaskan di apartemen Tennerife, Brisbane, Australia, pada 4 Oktober lalu. "Saya benar-benar kaget, terpukul, dan sedih mendengar kabar itu. Dia merupakan tulang punggung keluarga," katanya.

    Semenjak kecil, kata dia, Febri tinggal bersama Rusmmaini di Jalan Onta. Sementara Nining hidup di Palembang ikut bersama suaminya. "Dia sejak kecil tidak pernah bertemu dengan bapaknya. Lelaki itu kabur entah ke mana. Sudah tidak penting bagi kehidupan kami,"  katanya. (Baca: Mayang Sebut Dirinya "Waria Kelas Atas Asia")

    Menurut Nining, Febri yang biasa disapa Ebi selalu mengiriminya uang Rp 4 juta setiap bulan. Uang sebesar itu untuk menghidupi kedua adik tiri dan neneknya yang kini hanya bisa terbaring lemah. "Kiriman selalu kami bagi dua. Untuk kami dan neneknya," katanya. (Baca: Pacar Mayang Aktivis Anti-Kekerasan pada Perempuan)

    NUROCHMAN ARRAAZIE

    Berita Lain
    Ada Udang di Balik Perpu SBY dan Koalisi Prabowo
    Terima PPP, Koalisi Jokowi Siapkan Kursi Wakil MPR
    Gerindra Menentang Pembubaran FPI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.