Wanita Eropa Ikut Jihad Brigade Al-Khansaa ISIS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bocah Suriah menangis saat polisi mencari tas mereka setelah menyeberangi perbatasan Suriah dan Turki di Suruc, Sanliurfa, Turki, 23 September 2014. Badan pengungsi PBB mengatakan, sekitar 400.000 orang melarikan diri ke Turki dari wilayah Kurdi Suriah untuk menghindari serangan ISIS. AFP/Bulent KILIC

    Bocah Suriah menangis saat polisi mencari tas mereka setelah menyeberangi perbatasan Suriah dan Turki di Suruc, Sanliurfa, Turki, 23 September 2014. Badan pengungsi PBB mengatakan, sekitar 400.000 orang melarikan diri ke Turki dari wilayah Kurdi Suriah untuk menghindari serangan ISIS. AFP/Bulent KILIC

    TEMPO.CO, Raqqa - Brigade Al-Khansaa yang merupakan milisi wanita kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) diduga kuat banyak diisi oleh wanita-wanita yang berasal dari luar Irak dan Suriah, termasuk dari negara-negara Eropa. (Baca: Milisi Wanita ISIS Bentuk Brigade Al-Khansaa)

    Brigade yang berbasis di Kota Raqqa ini memiliki sekitar 25-30 anggota. Media Inggris menduga kuat bahwa di antara Brigade Al-Khansaa terdapat Aqsa Mahmood, wanita berusia 20 tahun asal Glasgow, Skotlandia, yang melakukan perjalanan ke Suriah sejak November 2013. (Baca: Lewat Twitter, Wanita Skotlandia Ajak Berjihad)

    Tak hanya Aqsa, menurut laporan News.com.au, dua remaja Austria, Sabrina Selimovic, 16 tahun, dan Samra Kesinovic, 15 tahun, diduga kuat bergabung dengan Al-Khansaa. Interpol masih mencari keberadaan kakak-beradik yang menghilang dari rumah mereka di Wina itu.

    Adapun dari Inggris, Khadijah Dare telah menjadi perempuan pertama yang bergabung dengan ISIS. Wanita asal London, Inggris, ini menikah dengan Abu Bakr, seorang laki-laki berdarah Swedia yang juga anggota kelompok militan ISIS.

    Pada Juli 2014, Dare muncul dalam sebuah video dokumenter dari UK Channel 4. Video tersebut menayangkan film tentang seorang perempuan Inggris yang bergabung dengan ISIS di Suriah. Dalam film itu, Dare menyebut dirinya sebagai "Maryam". Dia berbicara di depan kamera bahwa dirinya bukanlah seorang pejuang, tetapi lebih suka menjadi seorang relawan yang bersedia mati demi agama. (Baca: Khadijah, Militan Wanita Pertama ISIS Asal Inggris)

    Satuan ini bertugas berpatroli di jalan-jalan Kota Raqqa untuk memastikan semua wanita mematuhi peraturan dalam menggunakan pakaian muslimah sebagaimana digariskan ISIS. Mereka akan menghukum perempuan yang hanya memakai jilbab biasa atau abaya yang terlalu pas di tubuh. Tak hanya itu, wanita yang memperlihatkan matanya juga akan mendapatkan hukuman, seperti hukuman cambuk.


    ANINGTIAS JATMIKA | NEWS.COM.AU | BBC | HUFFINGTON POST

    Terpopuler

    WNI Korban Pembunuhan di Australia Diduga Transgender
    Mayang Sebut Dirinya Waria Kelas Atas Asia
    Dibunuh, Jaringan Prostitusi Mayang Diselidiki  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.