Disandera ISIS, Mualaf dari Amerika: Saya Takut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdul-Rahman Kassig (kanan) berpose bersama ayahnya Ed Kassig. AP/Courtesy Kassig Family

    Abdul-Rahman Kassig (kanan) berpose bersama ayahnya Ed Kassig. AP/Courtesy Kassig Family

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merilis video pemenggalan relawan asal Inggris, Alan Henning, beberapa waktu lalu. Dalam video itu, muncul pula seorang pria yang setelah diidentifikasi diketahui bernama Peter Kassig, relawan asal Amerika Serikat yang menjadi target ISIS berikutnya. (Baca: Lagi, ISIS Penggal Sandera Asal Inggris)

    Dikutip dari BBC News, Senin, 6 Oktober 2014, sempat beredar kabar bahwa sandera ISIS dipaksa masuk Islam jika ingin tetap hidup. Menyikapi hal ini, orang tua Peter, Ed dan Paula Kissig, menjelaskan bahwa anaknya memang telah masuk Islam, tapi itu terjadi jauh sebelum ia disandera oleh ISIS. Peter kini berganti nama menjadi Abdul-Rahman Kissig.

    "Peter masuk Islam atas keinginannya sendiri. Dia berada di dalam satu sel bersama seorang muslim lain yang taat," kata Ed.

    Ed dan Paula juga merilis surat yang mereka terima dari Peter pada 2 Juni lalu. Lewat surat tersebut, Peter bercerita kepada Ed dan Paula betapa ia sedang sangat ketakutan saat itu.

    "Saya sangat takut mati. Saya bahkan tak berani berharap. Jika saya mati, setidaknya saya telah membantu meringankan beban teman-teman muslim yang sedang membutuhkan bantuan," kata Ed mengutip surat Peter.

    Ed dan Paula mengatakan putranya bekerja untuk organisasi pemberi bantuan yang didirikan sendiri oleh Peter, yakni Tanggap Darurat dan Bantuan Khusus (Sera). Peter ditangkap dalam perjalanan ke Deir Ezzor di Suriah timur tahun lalu. (Baca: Relawan Inggris Memohon Ampunan pada ISIS)

    Dengan disebarkannya surat Peter, Ed dan Paula berharap putranya bisa mengetahui betapa banyak orang yang mendoakan dan mendukungnya. "Kami sangat berterima kasih kepada orang-orang di seluruh dunia yang telah mendoakan Peter dan keluarga kami dalam masa yang sulit seperti ini, terutama bagi teman Peter di Libanon, Turki, dan Suriah," kata Ed.

    RINDU P. HESTYA | BBC NEWS

    Berita Lain:
    WNI Korban Pembunuhan di Australia Diduga Transgender
    WNI Jadi Korban Mutilasi Pacarnya di Australia
    Alex Younger, Bos Baru Intelijen Inggris MI6  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.