Gara-Gara ISIS, Kafe ISIS di New York Merugi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pasukan Irak memegang bendera Negara Islam saat beroperasi diarea Amirli, utara Baghdad, Irak (1/9). Pasukan Irak, Kurdi dan milisi Syiah melanjutkan serangan balik mereka terhadap ISIS yang dipicu kesuksesan menembus blokade ISIS di kota Amirli. AP

    Sejumlah pasukan Irak memegang bendera Negara Islam saat beroperasi diarea Amirli, utara Baghdad, Irak (1/9). Pasukan Irak, Kurdi dan milisi Syiah melanjutkan serangan balik mereka terhadap ISIS yang dipicu kesuksesan menembus blokade ISIS di kota Amirli. AP

    TEMPO.CO, New York - Michil Gadalla harus menerima fakta bahwa kafe sisha miliknya semakin sepi pengunjung. Bukan karena pelayanannya yang tidak maksimal, tapi nama kafe miliknya mirip kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), ISIS Hookah Longe. Kafe ini berlokasi di New York, Amerika Serikat.

    Dikutip dari Al-Arabiya, Senin, 29 September 2014, pria ini membuka kafe sisha pada 2010, jauh sebelum nama ISIS heboh di Internet. Gadalla mengaku pendapatan bisnisnya mulai menurun sejak ISIS melakukan serangkaian serangan selama beberapa bulan teakhir. (Baca: Gara-gara ISIS, Perusahaan Aplikasi Ini Ganti Nama)

    "Mereka adalah teroris dan orang jahat. Mereka memberikan reputasi buruk bagi bisnis saya," kata Gadalla.

    Hampir semua pejalan kaki yang lewat di depan kafe miliknya pasti akan mengeluarkan ekspresi heran. Pernah seorang pelanggan datang dengan putrinya yang berusia 16 tahun kaget melihat papan kafe sambil berkata, "Apa-apaan ini?"

    Sadar bahwa ada kesamaan nama dengan ISIS, pria berdarah Mesir ini tidak mau mengganti papan kafe miliknya. Bagi Gadalla, dengan kerugian kafe yang telah mencapai US$ 3 juta, biaya pergantian papan terasa sangat mahal. "Mengganti papan kafe membutuhkan dana sekitar US$ 8 ribu (Rp 97 juta)," kata Gadalla.

    RINDU P. HESTYA | AL-ARABIYA

    Berita Lain:
    Soal ISIS,Turki Sarankan Amerika Serang dari Darat
    PM India dan Israel Bahas Kerja Sama di New York
    Ashraf Ghani Dilantik Jadi Presiden Afganistan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.