Demi Anak, Pria Ini Rela Kehilangan Gaji Rp 99,2 M  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • dailymail.co.uk

    dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Orang tua rela melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya. Inilah yang dilakukan Mohamed El-Erian, yang rela meninggalkan jabatannya sebagai CEO perusahaan investasi Pacific Investment Management Company (PIMCO) dan kehilangan penghasilan US$ 8,4 juta atau sekitar Rp 99,2 miliar per bulan demi menghabiskan waktu dengan anaknya.

    Dikutip Sydney Morning Herald, Jumat, 26 September 2014, El-Erian mengumumkan pengunduran dirinya dari perusahaan yang memiliki investasi senilai US$ 2 triliun itu pada Januari lalu. Kabar pengunduran ini El-Erian merupakan kejutan besar di dunia finansial.

    El-Erian mengaku mendapat "panggilan peringatan" saat membaca surat dari putrinya yang berusia 10 tahun. Dalam surat itu, putrinya menceritakan bagaimana ia sedih saat ayahnya tidak bisa datang dalam acara Halloween, pertemuan orang tua murid, dan pertandingan sepak bola pertamanya.

    "Hidup saya tidak seimbang, antara pekerjaan dan kehidupan nyata. Ketidakseimbangan itu telah menyakiti hubungan saya dengan putri saya. Saya tidak punya cukup waktu untuk menemaninya," ujar El-Erian dalam sebuah surat.

    Setelah mengundurkan diri, El-Erian telah membayar utang pada anaknya. Ia dan istrinya secara bergantian mengantarkan sang anak ke sekolah dan merencanakan liburan bersama.

    Dengan memilih tidak bekerja dalam waktu penuh, El-Erian kini bekerja sebagai kepala penasihat PIMCO dan Allianz. Ia juga menjabat di Dewan Pembangunan Global di bawah pengawasan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

    RINDU P. HESTYA | SYDNEY MORNING HERALD

    Berita Lain:
    Gara-gara Sashimi, Pria Ini Digerogoti Cacing Pita 
    Dilarang Berjilbab, Atlet Basket Qatar Mundur di AG 
    1,2 Juta Warga Sierra Leone Dikarantina  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.