Serang ISIS di Suriah, Ini Senjata Andalan AS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Perusak USS Arleigh Burke meluncurkan rudal Tomahawk untuk menyerang ISIS, 23 September 2014. REUTERS/U.S. Navy

    Kapal Perusak USS Arleigh Burke meluncurkan rudal Tomahawk untuk menyerang ISIS, 23 September 2014. REUTERS/U.S. Navy

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika Serikat dan para sekutunya, termasuk negara-negara Arab, telah meluncurkan serangan perdana ke Suriah untuk melawan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada Selasa, 23 September 2014. AS menggunakan beberapa perangkat keras militer yang paling canggih dan menyerang selama lima jam.

    Dikutip dari Time, Selasa, 23 September 2014, sebanyak 47 rudal Tomahawk telah diluncurkan oleh kapal USS Arleigh Burke dari Laut Merah. Rudal dengan jangkauan 1.700 kilometer ini merupakan "senjata pamungkas" militer AS sejak Perang Teluk pada 1991 silam. (Baca: AS dan Sekutu Arab Mulai Gempur ISIS di Suriah)

    "Target Tomahawk adalah array komunikasi ISIS yang terletak di atap bangunan. Tomahawk telah merusak sebagian besar array komunikasi," kata Direktur Operasi Kepala Staf Gabungan dari Angkatan Darat, Letnan Bill Mayville.

    Serangan lainnya berasal dari boomber B-1, F-15, dan F-16. Dari pesawat tersebut beberapa rudal digunakan untuk menyerang markas, tempat pelatihan, barak, dan kendaraan tempur.

    Namun, di antara semua senjata mematikan itu, "bintang utama" senjata AS adalah pesawat Angkatan Udara AS, F-22. Pesawat fighting-boomber ini telah beberapa kali menyerang daerah Raqqa, yang diyakini sebagai markas ISIS.

    "Ini adalah kali pertama F-22 digunakan untuk berperang. Di dalam F-22 terdapat banyak amunisi yang siap diluncurkan dan dapat dipandu dengan GPS," kata Mayville.

    Serangan terakhir datang dari pesawat F-18. Pesawat induk dari USS George HW Bush ini difokuskan untuk menyerang tempat logistik ISIS. Mayville melaporkan F-18 telah berada di lokasi yang ditargetkan. (Baca: ISIS: Serangan Udara AS Tak Berguna)

    "Sebanyak 96 persen dari senjata yang digunakan adalah senjata yang akurat dan dapat dipandu," kata Mayville.

    Hingga saat ini belum diketahui berapa serangan yang telah dilancarkan oleh AS. Namun, sejumlah negara Arab, seperti Bahrain, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, dilaporkan telah meluncurkan bom dan rudal dari pesawat. Hanya Qatar yang belum melancarkan serangan sejak "perang" berlangsung kemarin.

    RINDU P. HESTYA | TIME

    Berita Lain:

    ISIS: Serangan Udara AS Tak Berguna
    Wartawan ISIS Digaji Rp 18 Juta per Bulan
    Terduga Pembunuh Tiga Remaja Israel Tewas Ditembak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.