SBY Ceramahi 1.000 Kadet Militer AS di West Point

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ibu Ani Yudhoyono memberi salam sebelum keberangkatannya menuju Portugal, Jepang dan Amerika Serikat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 18 September 2014. Perjalanan ini merupakan terakhir Presiden SBY sebelum lengser dari kursi kepresidenan. TEMPO/Subekti.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ibu Ani Yudhoyono memberi salam sebelum keberangkatannya menuju Portugal, Jepang dan Amerika Serikat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 18 September 2014. Perjalanan ini merupakan terakhir Presiden SBY sebelum lengser dari kursi kepresidenan. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, New York - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ceramah di hadapan sekitar 1.000 kadet atau taruna Akademi Militer Amerika Serikat (The United States Military Academy) di West Point, Orange County, di Sungai Hudson barat, Amerika Serikat, Senin siang atau Selasa pagi, 22 September 2014, waktu Indonesia. SBY menjelaskan tentang tantangan militer saat ini.

    "Tantangan dunia yang baru dan kompleksitas konflik global saat ini membuat peran militer juga berubah," kata SBY.

    SBY tiba di Amerika Serikat pada Sabtu,  20 September 2014. Pada Selasa ini, SBY akan menghadiri UN Climate Summit 2014: Catalyzing Action dan menyampaikan pidatonya di Ruang Sidang Majelis Umum. (Baca juga: SBY Bertolak ke Tiga Negara di Tiga Benua)

    Dalam ceramahnya di West Point, SBY menuturkan perang non-konvensional seperti operasi konter-insurgensi dan perang melawan teror kian sulit, rumit, dan kompleks. Tentara kini menghadapi musuh yang memiliki ideologi, keyakinan, militansi, dan persepsi yang sangat berbeda. Bahkan senjata modern pun punya keterbatasan.

    Tantangan-tantangan tersebut dihadapi bersamaan dengan perubahan hubungan internasional yang lebih dinamis. Saat ini, ujar SBY, keseimbangan geopolitik terus berubah--demikian sumber-sumber konflik baru bermunculan, di antaranya persaingan untuk mendapatkan sumber daya, khususnya makanan, dan energi yang kian langka--sedangkan jumlah penduduk dunia telah mencapai 9 miliar.

    "Kita juga menyaksikan munculnya geopolitik emosi, yang merefleksikan hubungan tidak mudah antara Islam dan Barat. Geopolitik yang belum mengakhiri lingkaran kebencian, ketakutan, dan penghinaan," kata SBY, sambil menambahkan bahwa konflik Timur Tengah masih belum terpecahkan, sementara pada saat bersamaan, Perang Dingin antara negara-negara besar akan kembali terjadi.

    NATALIA SANTI

    Berita lain:
    Gamawan: RUU Pemda Disahkan, Jokowi Enak
    Kronologi Penembakan Empat Tentara Versi TNI AD 
    Bebas Murni, Begini Kata Ariel Noah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?