CIA Buka ke Publik Sejumlah Artikel Rahasia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lambang Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen Amerika, yang terdapat di Lobi Markas Besar CIA di Langley. cia.gov

    Lambang Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen Amerika, yang terdapat di Lobi Markas Besar CIA di Langley. cia.gov

    TEMPO.CO, Washington - Badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) merilis koleksi artikel yang sebelumnya dinyatakan sebagai rahasia, yang dihasilkan oleh jurnal internalnya. Dibukanya artikel ini kepada publik memberikan gambaran sekilas pemikiran organisasi mata-mata ini atas sejumlah hal penting, termasuk soal taktik rahasia Al-Qaeda di Afghanistan.

    Dokumen, yang diposting di situs CIA pada Kamis 18 September 2014, berasal dari jurnal internal dinas rahasia itu yang bernama Studies in Intelligence. Misi dari jurnal ini adalah "Untuk merangsang diskusi konstruktif tentang isu penting saat ini di dalam Komunitas Intelijen; memperluas pengetahuan tentang pelajaran dari pengalaman masa lalu; meningkatkan pemahaman tentang sejarah profesi' dan menyediakan pembacanya dengan ulasan tentang literatur umum mengenai intelijen."

    Salah satu artikel yang dibuka adalah tulisan George Tenet, yang memimpin CIA dari Juli 1997 sampai Juli 2004. Dalam artikel itu ia mengatakan bahwa agen-agennya harus jujur dengan diri mereka sendiri tentang apa yang mereka lakukan.

    "Saya tidak bisa menjelaskan apa yang kita lakukan di sini selain mengatakan kita mencuri rahasia untuk hidup dan kita mengambil rahasia mereka dan menempatkannya ke dalam semua-sumber produk yang membuat perbedaan untuk seseorang," kata Tenet dalam artikel sepanjang 10 halaman yang sangat banyak diedit itu.

    Michael J. Sulick, seorang perwira operasi intelijen yang pensiun pada 2010, menyatakan dalam artikel lainnya bahwa organisasi kontra intelijen AS tidak boleh gagal menemukan mata-mata musuh yang bekerja untuk Al-Qaeda dan kelompok teroris modern lainnya.

    "Sederhananya, kelompok teroris beroperasi seperti badan intelijen. Teroris memata-matai sebelum mereka meneror. Mereka mempelajari dan mengamati targetnya. Mereka mengumpulkan informasi intelijen tentang kerentanan musuhnya."

    Menurut Sulick, organisasi teroris itu bersikap seperti dinas rahasia. Mereka berlatih soal keahlian di bidang intelijen. Penemuan material di rumah aman Al-Qaeda di Afghanistan dan negara-negara lainnya menguatkan itu. Dari sana ditemukan manual pelatihan spionase, tradecraft (teknik yang digunakan intelijen) seperti identifikasi situs pertemuan, dead drop secara klandestin, teknik merekrut sumber, melakukan komunikasi rahasia, dan melakukan pelacakan dan melaporkan soal targetnya.

    Ada juga artikel tentang operasi intelijen Amerika Serikat dalam Perang Korea, Perang Dingin, dan hubungan CIA dengan media.

    Washington Post | Abdul Manan

    Berita Lainnya
    Jurnalis Inggris Dipaksa Masuk Islam oleh ISIS  
    Ini Hasil Hitung Cepat Referendum Skotlandia  
    ISIS Rilis Video Jurnalis Inggris yang Disekap  
    Penghitungan Sementara, Skotlandia Tolak Referendum


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.