Kisah Sedih Serena, Balita Korban Wabah EColi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakteri

    Bakteri

    TEMPO.CO, Jakarta - Namanya Serena Profitt, usianya 4 tahun, dan ia berasal dari Otis, Oregon, Amerika Serikat. Di usianya yang masih begitu belia, Serena harus meregang nyawa. Ia mengalami gagal ginjal, diduga disebabkan karena keganasan bakteri E. Coli.

    Serena tak dapat bertahan. Sementara, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun, teman bermain Serena, kini dalam keadaan kritis, juga diduga terserang bakteri yang sama.

    Sebelumnya, Serena diketahui berbagi roti sandwich dengan teman bermainnya itu dalam sebuah acara kumpul-kumpul saat liburan peringatan hari buruh, Sabtu, 30 Agustus 2014. Pada Minggu malam, 31 Agustus 2014, Serena mulai mengalami nyeri gastrointestinal, kemudian disusul menderita diare. Anehnya, teman bermainnya yang berbagi sandwich dengannya juga mengalami diare.

    Dua hari kemudian kondisi Serena tidak kunjung membaik. Pada saat ia buang air besar, fesesnya bercampur dengan darah. Serena juga enggan makan. Dengan kondisi yang Serena yang semakin lemah, orang tuanya pun segera membawa Serena ke rumah sakit. Selama dirawat di rumah sakit, Serena hanya menjalani pemeriksaan kesehatan umum, sama sekali tidak ada kecurigaan akan serangan bakteri E. Coli sehingga Serena diperkenankan pulang dan hanya menjalani rawat jalan.

    Pada Sabtu, 6 September 2014, Serena tiba-tiba mengalami kejang. Orang tuanya kembali membawa Serena ke rumah sakit. Namun rumah sakit yang berbeda. Serena dimasukkan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Menurut hasil pemeriksaan tim dokter, Serena mengalami gagal ginjal dan disarankan menjalani pemeriksaan terkait bakteri E. Coli.

    Esok paginya, Serena terbangun dari tidur. Ia tampak begitu ceria, seperti dalam keadaan kondisi sehat. "Pada Minggu pagi, dia (Serena) terbangun. Ia begitu ceria. Ia bisa bangun dan duduk di tempat tidurnya untuk pertama kalinya semenjak dalam kondisi sakit. Ia bisa bicara, mengobrol dengan ayah dan ibunya dan mengatakan bahwa ia menyayangi mereka." ucap Hargitt Profitt, ibunda Serena. Sayang, keceriaan ini tidak berlangsung lama. Siang harinya Serena kembali mengalami kejang. Stroke menyerang bagian kanan tubuh mungilnya.

    Pada Senin pukul 2 dini hari, Serena kembali mengalami kejang-kejang yang cukup parah. Dokter memprediksi bahwa ia mengalami pendarahan otak. Tim dokter pun segera mengambil tindakan untuk mengeluarkan darah yang ada di otaknya tersebut. Kabar buruk, saat itu pula diketahui bahwa otak Serena sudah tidak lagi bekerja. Kedua orang tua Serena pun hanya bisa pasrah akan kondisi putri kecil mereka. Di saat-saat terakhir, ayah dan ibunya mendampinginya. Mereka duduk disampingnya sambil menyanyikan lagu-lagu kesukaannya. Dan Serena pun akhirnya pergi untuk selama-lamanya.

    Serena dinyatakan meninggal dunia akibat gagal ginjal akut. Hasil tes bakteri E. Coli-nya positif, pun hasil test bakteri E. Coli pada teman bermainnya. Diduga, bakteri E. Coli itulah yang memicu gagal ginjal tersebut. Namun, belum dapat dipastikan apakah bakteri E. Coli itu berasal dari roti sandwich yang mereka makan.

    ANISA LUCIANA | ABC NEWS

    Terpopuler:
    Prabowo Legowo Ahok Keluar dari Gerindra
    Surya Paloh Ditanyakan Soal Ahok dan RUU Pilkada
    Jokowi Janji Akan Cukur Biaya Rapat Rp 18 Triliun
    Jokowi-JK Pakai Mobil Lama, SBY-Boediono? 
    Gerakan Save Ahok Ramai di Twitter


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.