Pasukan Ukraina Ditarik dari Bandara Utama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga beri salam perpisahan untuk relawan sebelum bergabung dengan batalyon khusus unit tempur melawan separatis pro-Rusia, di Kiev, Ukraina, 26 Agustus 2014. (AP/Efrem Lukatsky)

    Keluarga beri salam perpisahan untuk relawan sebelum bergabung dengan batalyon khusus unit tempur melawan separatis pro-Rusia, di Kiev, Ukraina, 26 Agustus 2014. (AP/Efrem Lukatsky)

    TEMPO.CO, Kiev - Seluruh tentara Ukraina yang bertugas mengamankan lapangan terbang utama di wilayah timur ditarik setelah sejumlah tank Rusia merangsek masuk. Presiden Ukraina Petro Poroshenko menduduh Moskow melakukan agresi langsung dan terbuka.

    Penarikan pasukan dari bandara penerbangan sipil di luar Kota Luhansk, sekitar sebelas jam berkendara dari Kiev, itu menyusul kecamuk perang antara militer Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia. Menurut pemerintahan Kiev, kelompok ini mendapatkan dukungan ratusan pasukan dan senjata berat Rusia.

    Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Senin, 1 September 2014, militer Ukraina mengatakan pasukannya bertempur sengit dengan satu batalion tank Rusia tak jauh dari bandara. "Selanjutnya, pasukan Ukraina di Luhansk mendapatkan perintah ditarik mundur dari bandara," ujar juru bicara militer, Andriy Lysenko.

    Koresponden Al Jazeera, Paul Brennan, melaporkan dari Mariupol, "Lapangan terbang ini tempat strategis bagi pasukan Ukraina untuk suplai logistik dari udara."

    Berbicara di Akademi Militer Kiev, Poroshenko menuturkan keterlibatan Rusia secara langsung dalam perang Ukraina melawan separatis di Ukraina timur menyebabkan kecamuk perang di medan laga tidak seimbang, sehingga hal tersebut menjadi pertimbangan untuk menarik seluruh pasukannya di sana.

    "Rusia telah melakukan agresi langsung dan terbuka terhadap Ukraina. Ini menyebabkan situasi di zona perang berubah secara radikal," katanya.

    Tudingan Presiden Poroshenko tersebut ditolak Moskow seraya menjelaskan bahwa keterlibatan militernya di wilayah Ukraina timur merupakan bagian dari upaya membantu republik rakyat di wilayah itu yang berbahasa Rusia.

    Menteri Pertahanan Ukraina Valeriy Geletey pada Senin, 1 September 2014, menuturkan perang besar bakal pecah dengan Rusia. Menurut dia, konflik ini dapat menimbulkan korban puluhan ribu jiwa. "Perang besar yang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II telah tiba di depan mata. Insiden ini akan memakan puluhan ribu jiwa," ujar Geletey.

    AL JAZEERA | CHOIRUL 

    Berita terpopuler lainnya:
    Curhat Jokowi: Dari Sinting, Ihram dan Prabowo
    Manfaat Caci Maki Florence 'Ratu SPBU'
    3 Skandal Asusila Gubernur Riau yang Bikin Heboh
    Ini AKBP Idha, Perwira yang Ditangkap di Malaysia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.