Darurat Ebola, Jepang Tawarkan Obat Uji Coba  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas kesehatan Liberia menyemprotkan disinfektan pada pakaian pelindung setelah mengangkat jenazah wanita yang diduga meninggal akibat virus ebola di Monrovia, Liberia (15/8). John Moore/Getty Images

    Seorang petugas kesehatan Liberia menyemprotkan disinfektan pada pakaian pelindung setelah mengangkat jenazah wanita yang diduga meninggal akibat virus ebola di Monrovia, Liberia (15/8). John Moore/Getty Images

    TEMPO.CO, Tokyo - ZMapp merupakan satu-satunya obat yang tengah diuji coba keefektifanya melawan ebola di negara Afrika Barat. Namun, stok serum ZMapp dilaporkan sangat sedikit, sedangkan warga yang terinfeksi terus bertambah. Pemerintah Jepang pun akhirnya menawarkan obat percobaan bernama T-705 yang pernah berhasil mengobati flu parah di berbagai negara. (Baca: Begini Strategi Uganda untuk Cegah Ebola)

    "Kami siap memberikan obat yang masih dalam tahap uji coba jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajak untuk bekerja sama," kata Kepala Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga, seperti dilaporkan Channel News Asia, Senin, 25 Agustus 2014. (Baca: Vaksin Ebola ZMapp Habis, WHO Gelar Perundingan)

    Suga menjelaskan sudah mendapatkan banyak permintaan T-705 dari beberapa negara, namun ia menolak menyebutkan jumlah dan lokasinya. Produsen T-705, Fujifilm Holding Corp, dan mitra dari Amerika Serikat MediVector pun sedang menggelar pembicaraan dengan Badan Pengawasan Obat di AS untuk mengajukan permohonan izin dan perluasan penggunaan T-705 sebagai pengobatan ebola.

    "Saya mendapat informasi bahwa pihak medis profesional bisa mengajukan permintaan agar T-705 disetujui untuk mengobati ebola, bahkan sebelum izin dari WHO," kata Suga.

    T-705 adalah obat favipiravir influenza yang sedang dikembangkan oleh Fujifilm. Obat ini diklaim efektif mengobati berbagai jenis influenza yang menyerang antibodi. "Kami juga tidak memiliki masalah ketersediaan stok. Produk kami bahkan cukup untuk mengobati 20 ribu orang," kata juru bicara Fujifilm, Takao Aoki.

    Sebenarnya, ZMapp adalah obat yang juga masih dalam tahap percobaan kepada manusia. Namun, mengingat wabah ebola sudah mencapai tingkat darurat, WHO mengizinkan obat dari Amerika Serikat itu diberikan kepada pasien.

    ZMapp diklaim telah berhasil menyembuhkan dua warga AS yang terkena ebola. Namun, salah satu pekerja medis di Liberia meninggal setelah diberikan obat yang berasal dari daun tembakau ini.

    RINDU P. HESTYA | CHANNEL NEWS ASIA

    Berita Lain:
    Ini 8 Anggota ISIS yang Mirip Pemenggal Jurnalis AS
    Ini Skenario Inggris Buru Pemenggal James Foley
    Diam-diam Mesir dan Uni Emirat Arab Serang Tripoli


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?