Waspada Ebola, Ribuan Turis Asia Batal ke Afrika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Relawan bersiap menggunakan pakaian pelindung saat akan memindahkan jenazah korban Ebola di Pendebu, Sierra Leone, 18 Juli 2014. REUTERS/WHO/Tarik Jasarevic

    Relawan bersiap menggunakan pakaian pelindung saat akan memindahkan jenazah korban Ebola di Pendebu, Sierra Leone, 18 Juli 2014. REUTERS/WHO/Tarik Jasarevic

    TEMPO.CO, Jakarta - Wabah ebola mulai mengancam bidang pariwisata di negara-negara Afrika Barat. Ribuan wisatawan, terutama dari Asia, membatalkan rencana perjalanan ke Afrika tahun ini. Pembatalan perjalanan juga menular ke negara di Afrika Selatan yang berjarak ribuan kilometer dari pusat infeksi.

    Meskipun belum ada lokasi di luar Liberia, Sierra Leone, dan Guinea, yang melaporkan ebola, banyak wisatwan yang takut untuk melancong ke Benua Hitam itu. "Mereka khawatir dengan penyebaran ebola," kata operator tur di Afrika dan Asia seperti dilaporkan Reuters, Rabu, 20 Agustus 2014.

    Selain dari Asia, pembatalan perjalanan juga terjadi di Amerika Serikat dan negara Eropa. Delegasi bisnis dari Brasil juga membatalkan perjalanan ke Namibia, Afrika Selatan, dengan alasan yang sama. (Baca: Inggris Siapkan Bantuan Rp 126 Miliar untuk Ebola)

    Managing Director di ERM Tours di Johannesburg, Afrika Selatan, Hannes Boshoff, menjelaskan sekitar 80 persen pelanggan dari Asia telah membatalkan perjalanan hingga 2-3 bulan ke depan. "Banyak konsumen saya salah paham bahwa Afrika sebagai satu negara, bukan benua," kata Hannes.

    Hampir 10 juta orang datang ke Afrika Selatan pada 2013. Bidang pariwisata menyumbang lebih dari 10 persen Pendapatan Nasional dan pasar Asia adalah yang paling banyak. (Baca: Kecil Kemungkinan Ebola Masuk ke Indonesia)

    Ebola menjadi masalah serius bagi negara-negara di Afrika Barat. Penyakit ini telah membunuh 90 persen dari mereka yang positif terinfeksi. Setidaknya 1.200 jiwa dari Liberia, Sierra Leone, dan Guinea, meninggal akibat penyakit yang belum ditemukan obatnya ini.

    RINDU P. HESTYA | REUTERS

    Berita Lain:
    Perlakuan ISIS ke Perempuan dan Anak-anak Yazidi
    Rusia Perkuat Angkatan Laut buat Saingi NATO
    Kasus Wartawan Foley, Obama: ISIS seperti Kanker


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.