Cina dan Jepang Ketemu di Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Momen Konferensi Asia Afrika di Jakarta dan Bandung menjadi penting bagi Cina dan Jepang yang kini sedang 'panas', gara-gara buku sejarah untuk sekolah di Jepang dianggap mengandung manipulasi. Dua negara itu akan mengadakan pertemuan bilateral. "Kami sedang mencari waktu yang tepat,"ujar Deputi Direktur Jenderal Urusan Asia dan Oseania Departemen Luar Negeri Jepang Shinichi Nishimiya, Jumat (22/4) di Jakarta Hilton Convention Center. Menurut Shinichi, pemimpin Jepang dan Cina sudah memiliki keinginan untuk bertemu di sela Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Jakarta. "Kalau tidak ada (keinginan), mana mungkin kami akan mencari waktu. Kedua pemimpin negara saat ini memiliki jadwal yang sangat ketat. Itu saja masalahnya,"ujarnya. Belum pasti, kapan pertemuan akan berlangsung. Mengenai isi pertemuan, Shinichi mengaku tidak mengetahui agenda yang akan dibicarakan. "Sepertinya tidak jauh dari hubungan (Cina-Jepang) akhir-akhir ini,"ujarnya. Jepang dan Cina dalam bidang ekonomi adalah mitra di bidnag industri, budaya, dan teknologi. Jepang dan Cina dalam tiga minggu terakhir terlibat percekcokan. Dalam versi Cina, hal ini diawali dengan penerbitan buku pelajaran sejarah di Jepang yang tidak memasukkan kekejaman Jepang selama Perang Dunia II. Masyarakat Cina, selain itu juga menolak Jepang masuk ke dalam anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang bakal diperluas. Akibat dari masalah itu, terjadi demonstrasi di Cina oleh masyarakat yang dilakukan secara besar-besaran. Beberapa pusat pelatihan Jepang di Cina ditimpuk dan dibakar. Jepang menuntut Cina minta maaf, namun Cina juga menuntut Jepang minta maaf atas penerbitan buku pelajaran tersebut. Hingga kini, dua pemimpin belum pernah bertemu dan menyampaikan permintaan maaf. Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi dalam pidatonya di hadapan wakil dari 106 negara yang diantaranya terdiri dari 54 kepala negara, termasuk dua tuan rumah, Indonesia dan Afrika Selatan menyatakan minta maaf "Di masa lalu, Jepang telah menyebabkan kesengsaraan kepada bangsa Asia, dengan kebijakan kolonial dan agresinya. Dari hati terdalam, Jepang meminta maaf atas apa yang terjadi selama Perang Dunia II,"ujar Koizumi. Namun, menurut Shinichi, permintaan maaf itu bukanlah masalah karena ketegangan dengan Cina. "Itu (permintaan maaf) sudah kami lakukan berkali-kali dalam banyak pidato kenegaraan di event internasional,"katanya. Ia merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Murayama tahun 1995. "Setiap ada kesempatan kami meminta maaf atas apa yang telah terjadi pada Perang Dunia II,"ujarnya.Ia membantah dikatakan pernyataan Koizumi sebagai "gerak tubuh" Jepang meminta maaf kepada Cina. "Itu logika yang salah. Sebab setiap ada kesempatan kami menyatakan permohonan maaf. Permintaan maaf yang kami lakukan bukan karena diminta pihak tertentu,"ujar Shinichi. Yophiandi

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.