Perempuan Iran Terima 'Nobel' Matematika  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • freepicturesweb.com

    freepicturesweb.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Profesor Universitas Stanford California, Maryam Mirzakhani, menjadi perempuan pertama yang memenangkan penghargaan The Fields Medal. Penghargaan dalam ilmu matematika setara Nobel ini diperoleh perempuan berkewarganegaraan Iran itu pada pengumuman Kongres Matematika Internasional (ICM) di Seoul, Korea, pada 13-21 Agustus 2014.

    Mirzakhani merupakan salah satu dari empat pemenang penghargaan pada bidang matematika. "Ini adalah suatu kehormatan bagi saya. Saya merasa sangat senang apabila penghargaan ini dapat memotivasi ilmuwan muda di bidang matematika lainnya," kata perempuan lulusan Universitas Harvard ini, seperti dikutip dari ABC News, Jumat, 15 Agustus 2014.

    "Saya yakin ke depannya akan banyak perempuan yang mendapatkan penghargaan ini," ujar Mirzakhani. Penghargaan tersebut mengukuhkan reputasi Mirzakhani atas kontribusinya pada sistem dinamika dan geometri, terutama pada bentuk permukaan melengkung seperti bola.

    Adapun The Fields Medal ialah penghargaan yang diumumkan setiap empat tahun sekali dan diberikan pada ilmuwan berprestasi dengan batas umur 40 tahun. Penghargaan itu merupakan pengganti Nobel karena pada Nobel tak terdapat bidang ilmu matematika. Oleh karena itu, The Fields Medal diklaim sebagai salah satu jenis penghargaan terbaik di dunia.

    Meski karyanya dinilai sebagai suatu ilmu matematika murni yang didominasi oleh teori, ternyata karya Mirzakhani dapat digunakan juga untuk bidang fisika dan teori kuantum, studi bilangan prima dan kriptografi, alias ilmu pengamanan data.

    Lahir dan dibesarkan di Taheran, Iran, Mirzakhani sebenarnya ingin menjadi penulis. Namun ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, kemampuannya untuk menyelesaikan soal matematika muncul dan itu mengubah jalan hidupnya hingga sekarang. "Sangat menyenangkan telah menyelesaikan soal matematika. Rasanya seperti menghubungkan puzzle dan titik-titik dalam kasus detektif," katanya. "Saya merasa matematika adalah jalan hidup saya."

    Menurut perwakilan ICM, Mirzani memang pantas meraih penghargaan tersebut. "Menjadi seorang ahli dalam berbagai prinsip ilmu matematika, Mirzakhani dapat menggabungkan kemampuan teknik matematika," katanya. Dia mengatakan Mirzakhani ialah seorang visioner yang memiliki ambisi yang besar dan tingkat penasaran yang tinggi.

    Sebelumnya, Mirzakhani telah mendapat sejumlah penghargaan. Pada 2009, ia telah memenangkan Bluemethal Award untuk penelitiannya dalam ilmu matematika murni. Ia pun meraih penghargaan Satter Prize pada 2013 lalu. Tak hanya itu, tahun ini ia memenangkan tiga penghargaan lainnya, yaitu penghargaan Prancis Artur Avila, pengharggan Universitas Princeton Manjul Bhargava, dan penghargaan Martin Hairer dari Universitas Warwick, Britania Raya.

    Sejak remaja, tepatnya pada 1994-1995, Mirzakhani telah memenangkan medali emas dalam olimpiade matematika. Ia memenangkan nilai sempurna di setiap tahunnya. Pada 2008, kariernya dilanjutkan dengan menjadi profesor dalam bidang matematika di Universitas Stamford. Di sana ia tinggal bersama suami dan tiga anaknya.

    Penghargaan The Fields Medal diberikan oleh presiden perempuan pertama Korea Selatan, Park Geun-Hye. "Saya mengucapkan selamat pada semua pemenang, khususnya Mirzakhani. Karena tekad yang besar, ia dapat menjadi wanita pertama yang mendapatkan penghargaan matematika," kata Park, di Seoul, Korea Selatan.

    Sama seperti Park, Rektor Universitas Stanford John Hennessy mengucapkan selamat pada rekannya. "Mewakili Universitas Stanford, saya mengucapkan selamat pada Mirzakhani karena telah meraih penghargaan tertinggi di dunia matematika."

    PERSIANA GALIH


    Topik terhangat:
    ISIS | Pemerasan TKI | Sengketa Pilpres | Pembatasan BBM Subsidi

    Berita terpopuler lainnya:
    Ketua Gerindra Laporkan Metro TV, Detik, dan Tempo
    Jokowi: Wajar Ada Beda Pendapat Soal Hendropriyono
    Rumah Novela Dirusak karena Apa?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?