WHO Tetapkan Status Darurat Ebola

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jenazah seorang pria yang diduga tewas karena virus Ebola tergeletak di jalanan di Monrovia, Liberia, 5 Agustus, 2014. Warga tidak berani menyentuhnya meski telah ada himbauan dari pemerintah untuk tidak meninggalkan mayat korban Ebola di jalanan. AP/Abbas Dulleh

    Jenazah seorang pria yang diduga tewas karena virus Ebola tergeletak di jalanan di Monrovia, Liberia, 5 Agustus, 2014. Warga tidak berani menyentuhnya meski telah ada himbauan dari pemerintah untuk tidak meninggalkan mayat korban Ebola di jalanan. AP/Abbas Dulleh

    TEMPO.CO, Jenewa - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan status darurat kesehatan internasional terkait dengan penyebaran virus mematikan ebola yang melanda bagian barat Afrika. Status darurat disampaikan WHO pada Jumat, 9 Agustus 2014, yang bertujuan menggerakkan masyarakat global agar membantu negara-negara yang terjangkit.

    Keputusan status tersebut keluar setelah pertemuan dua hari di Jenewa. Dengan status baru ebola itu, ada kemungkinan penerapan pembatasan perjalanan untuk menghentikan penyebarannya. Sejauh ini, jumlah korban tewas akibat virus ebola sudah mendekati 1.000 orang. (Baca: Unair: Kemungkinan Penularan Ebola ke Indonesia Relatif Besar)

    Langkah WHO menetapkan status darurat kesehatan ini muncul setelah otoritas kesehatan Amerika Serikat pada Kamis lalu mengakui bahwa virus yang sudah menyebar keluar dari Afrika barat itu sebagai kasus "tak terelakkan". Para dokter sukarelawan yang tergabung dalam kelompok Dokter Lintas Batas juga memperingatkan bahwa penyebaran ebola sudah di luar kendali, dengan lebih dari 60 titik penyebaran wabah.

    Direktur WHO Dr Margaret Chan menyerukan bantuan internasional yang lebih besar untuk negara-negara yang paling parah terjangkit ebola. Ia menggambarkan wabah ebola saat ini sebagai kasus paling serius dalam empat dekade terakhir. Seruan tersebut senada dengan pernyataan MSF sebelumnya. "Epidemi ebola belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal sebaran geografis, masyarakat terinfeksi, dan mengalami kematian," tutur Margaret Chan, seperti dilansir AsiaOne. (Baca: WHO: Ebola Menyebar Terlalu Cepat)

    Status darurat kesehatan ini berlaku bagi negara-negara di Afrika barat yang sudah kewalahan mengatasi virus ebola, termasuk Liberia, Guinea, dan Sierra Leone.

    Tentara di Provinsi Grand Cape Mount, Liberia--salah satu daerah yang paling parah terjangkit ebola--menutup jalan untuk membatasi akses ke Ibu Kota Monrovia, setelah dilaporkan banyak mayat tergeletak di jalan-jalan kota itu tanpa dikuburkan. (Baca: Liberia Blokade Wilayah yang Terkena Ebola)

    Sementara itu, dua kota di timur Sierra Leone, Kailahun dan Kenema, telah dikarantina pada Kamis kemarin. Pemerintah setempat juga menutup sementara tempat hiburan dan klub malam di wilayah itu.

    Penyakit tropis mematikan itu telah menewaskan dua orang dan menginfeksi setidaknya lima lainnya di Lagos.

    Berdasarkan data WHO, ebola telah menewaskan sedikitnya 932 orang dan menginfeksi lebih dari 1.700 lainnya sejak terjadi kasus pertama di Guinea awal tahun ini.

    ASIAONE | ROSALINA

    Baca juga:

    Kisah Pocong di Foto Syahrini Saat Umrah 
    5 Gugatan Prabowo yang Dipertanyakan Hakim MK 
    Orang Kaya Baru Indonesia Tersebar di Pedalaman 
    Merasa Kecewa, Pendukung Prabowo Pindah Dukungan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.