Gencatan Senjata, Warga Gaza Tengok Rumah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang bocah digendong oleh ayahnya sambil membawa bola saat berjalan di dekat reruntuhan bangunan yang terkena rudal militer Israel di Gaza, 1 Agustus 2014. Serangan Israel semenjak 8 Juli 2014 telah menghancurkan sejumlah bangunan di Gaza. REUTERS

    Seorang bocah digendong oleh ayahnya sambil membawa bola saat berjalan di dekat reruntuhan bangunan yang terkena rudal militer Israel di Gaza, 1 Agustus 2014. Serangan Israel semenjak 8 Juli 2014 telah menghancurkan sejumlah bangunan di Gaza. REUTERS

    TEMPO.CO, Gaza - Abu al-Rous terduduk lemas di bagian luar rumahnya. Ia tak sanggup bicara kepada putranya, Fady. Namun, dari raut wajahnya, warga Gaza ini tampak marah dan frustrasi. Rumahnya senilai US$ 200 ribu (Rp 2,3 miliar) hancur akibat pertempuran sengit antara Israel dan Hamas yang berlangsung dalam sepekan terakhir.

    Rous kembali ke rumahnya untuk pertama kali setelah pertempuran terjadi. Dia berani menginjakkan kaki di kediamannya setelah kedua pihak yang bertikai sepakat melakukan gencatan senjata selama 72 jam. (Baca: Israel-Hamas Sepakati Gencatan Senjata 72 Jam)

    Di Kota Rafah, ribuan orang juga hanya bisa berdiri menatap nanar memandangi reruntuhan rumah. Mereka menatap apa yang tersisa dari kehidupan mereka. Warga yang selama ini mengungsi ke rumah kerabat atau ke sekolah PBB kembali menyelamatkan barang berharga yang masih tersisa.

    “Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti ini dalam hidupku,” kata Tawfiq Barbakh kepada Associated Press sambil menatap pilu rumahnya yang hancur. “Aku tidak tahu ada berapa roket yang jatuh tiap menit, tapi rasannya seperti 20 atau 30. Rasanya seperti gerbang neraka dibuka untuk kami,” ujarnya.

    Konflik Israel dan Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, memanas sejak 8 Juli lalu dan menjadi sorotan dunia. Serangan roket Hamas ke Israel dibalas dengan serangan udara Israel ke sejumlah wilayah Jalur Gaza. Hingga saat ini, konflik ini sudah menewaskan hampir 1.900 warga Palestina--kebanyakan warga sipil, termasuk 400 anak-anak. (Baca: Sekjen PBB Frustrasi Hadapi Israel-Hamas)

    Pada Senin malam, Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata selama 72 jam. Hal ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga Gaza. Mereka mengumpulkan pasokan makanan untuk persediaan selama di pengungsian. Beberapa di antaranya kembali ke rumah untuk pertama kalinya.

    Kehancuran mendominasi seluruh Kota Gaza. Hampir tak ada lagi bangunan yang berdiri kukuh. Sejauh mata memandang, hanya tampak puing-puing bangunan sisa pertempuran yang sudah berjalan sekitar sebulan terakhir itu. (Baca: Di Gaza, Warga Kuburkan Jasad di Kulkas)

    ANINGTIAS JATMIKA |AP

    Terpopuler

    Cemburu, Wanita Ini Potong Payudara Rivalnya
    Di Gaza, Warga Kuburkan Jasad di Kulkas 
    ISIS Kuasai Kota Pertama di Libanon  

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.