Ke Lokasi MH17, Tim Investigasi Dilarang Bersenjata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas berbaris saat mengikuti upacara sebelum mengangkut peti mati berisikan sisa jasad korban Malaysia Airlines MH17 untuk dimasukkan kedalam sebuah pesawat saat akan dibawa ke Belanda saat di bandara Kharkiv, Ukraina, 23 Juli 2014. REUTERS

    Sejumlah petugas berbaris saat mengikuti upacara sebelum mengangkut peti mati berisikan sisa jasad korban Malaysia Airlines MH17 untuk dimasukkan kedalam sebuah pesawat saat akan dibawa ke Belanda saat di bandara Kharkiv, Ukraina, 23 Juli 2014. REUTERS

    TEMPO.CO, Canberra - Perdana Menteri Australia Tony Abbot menyatakan tim investigasi Gabungan Australia dan Belanda akhirnya mendapat izin untuk masuk ke Ukraina Timur, lokasi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17. Akan tetapi, tim berjumlah 49 orang, 11 di antaranya polisi Australia, ini tak mendapat izin untuk membawa senjata dan menginap di lokasi kejadian.

    "Tujuan utama kami adalah menemukan jasad yang masih ada. Itulah yang diharapkan warga Australia dan keluarga korban di seluruh dunia," kata Abbot kepada wartawan di Canberra, Ahad, 27 Juli 2014. (Baca: MH17 Jatuh, Milisi Pro-Rusia Akui Salah Tembak)

    Izin masuk ke lokasi diberikan atas dasar hasil diskusi dengan Pemerintah Ukraina di Donestk yang dipimpin Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE). Keputusan ini sekaligus tak lagi membuat tim gabungan menunggu persetujuan Parlemen Ukraina yang mempermasalahkan adanya pasukan bersenjata ke wilayah tersebut.

    Sebelumnya, tim gabungan berharap dapat didampingi pasukan bersenjata sebagai perlindungan selama berada di wilayah konflik tersebut. "Ini misi yang beresiko, tapi saran yang paling aman adalah melakukannya tanpa membawa senjata," kata Abbot. (Baca: MH17 Jatuh, Warga Belanda Usir Anak Perempuan Putin)

    Ia juga menyatakan Australia sendiri sudah mengirim pasukan pertahanan ke Ukraina meski dipastikan tak akan turun ke lokasi kejadian. Secara total, Australia telah mengirim 170 orang personel ke Ukraina dan lebih dari 20 personel ke Belanda.

    Komisaris Kepolisian Federal Australia Tony Negus juga menyatakan tim gabungan yang ke lokasi akan melakukan uji forensik. Tim memiliki prioritas utama untuk menemukan sisa jasad koran di lokasi kejadian. Akan tetapi, ia ragu proses forensik akan baik karena lokasi tersebut telah terkontaminasi proses publikasi dan aktivitas lainnya. "Kami realistis tentang kemungkinan forensik benar-benar akan dilakukan," kata Negus.

    GUARDIAN l FRANSISCO ROSARIANS

    Baca juga:
    Kompolnas Minta Polisi Pemeras TKI Dipidanakan
    Jumlah Penerbangan di Soekarno-Hatta Menurun
    Wilshere Minta Maaf Soal Merokok
    Tujuh Tip Sehat Saat Lebaran


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?