Buka Akses ke MH17, Pemberontak Ajukan Syarat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • KBRI Belanda mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda belasungkawa di London, Inggris, 18 Juli 2014. Pesawat Malaysia Airlines MH17 terbang dari Amsterdam, Belanda menuju Kuala Lumpur, malaysia. (AP/Stefan Rousseau/PA)

    KBRI Belanda mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda belasungkawa di London, Inggris, 18 Juli 2014. Pesawat Malaysia Airlines MH17 terbang dari Amsterdam, Belanda menuju Kuala Lumpur, malaysia. (AP/Stefan Rousseau/PA)

    TEMPO.CO, Donetsk - Pemberontak Ukraina pro-Rusia menolak untuk membuka akses kepada pemantau internasional untuk menyelidiki jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MY17 di wilayah timur Ukraina dekat perbatasan Rusia. Akses dibuka hanya jika pemerintah Ukraina di Kiev setuju melakukan gencatan senjata.

    Sejak jatuhnya pesawat MH17 pada Kamis, 17 Juli 2014 malam yang menewaskan 298 penumpang dan awaknya, pemberontak hanya memberikan akses terbatas untuk 30 tim pemantau dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE). (Baca:Tujuh Polisi Indonesia Masuk Tim Investigasi MH17)

    Namun, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, 48 tahun, menolak untuk memenuhi permintaan para pemberontak. Ia malah menegaskan pemberontak untuk menyerahkan diri kepada pemerintah Ukraina.

    Kepada para pemimpin internasional, Poroshenko meminta dukungan dengan mengakui pemberontak di wilayah jatuhnya MH17 sebagai organisasi teroris yang harus diseret ke Mahkamah Internasional di Hague, Belanda. (Baca:MH17 Diduga Alihkan Rute untuk Hindari Badai)
     
    Peristiwa jatuhnya MH17 yang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur akibat diterjang misil, ujar Poroshenko, mirip dengan tragedi 11 September 2001 yang terjadi di Amerika Serikat dan peristiwa Lockerbie.

    "Kami mencermati tidak ada perbedaan antara peristiwa di Ukraina dan apa yang terjadi pada 11 September di Amerika Serikat dan tragedi Lockerbie di Skotlandia (pesawat Pan Am jumbo jet yang membawa 258 meledak dan jatuh di Lockerbie tahun 1988. Pesawat diduga dibom yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat)," kata Poroshenko, seperti dikutip Straits Times, Ahad, 20 Juli 2014. (Baca:Ukraina Tuduh Separatis Pro-Rusia Rusak Bukti MH17)

    STRAITS TIMES | MARIA RITA

    Baca juga:
    Puncak Arus Mudik di Tol Merak Mulai Jumat
    Prabowo Masih Optimistis Menang Pemilu Presiden
    KPK Diminta Selidiki Peran Ketua PN Karawang
    Hatta Rajasa: Kalah-Menang itu Biasa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.