Diultimatum ISIS, Umat Kristen Tinggalkan Mosul

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga Irak yang melarikan diri dari Mosul dan kota-kota lainnya di utara Irak berjejal di atas mobik bak terbuka ketika menunggu antrian untuk menyeberang ke wilayah yang lebih aman, di Khazer, Irak, Rabu 25 Juni 2014. AP/Hussein Malla

    Sejumlah warga Irak yang melarikan diri dari Mosul dan kota-kota lainnya di utara Irak berjejal di atas mobik bak terbuka ketika menunggu antrian untuk menyeberang ke wilayah yang lebih aman, di Khazer, Irak, Rabu 25 Juni 2014. AP/Hussein Malla

    TEMPO.CO, Baghdad - Umat Kristen berbondong-bondong keluar dari Kota Mosul di Irak setelah gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menguasai kota itu. Melalui pengeras suara di masjid-masjid, perwakilan ISIS menyampaikan ultimatum memberi pilihan selama beberapa jam untuk mereka pergi atau berpindah agama.

    "Keluarga Kristen sedang dalam perjalanan mereka ke Dohuk dan Arbil," ujar Louis Sako, pemuka agama Kristen. "Untuk pertama kalinya dalam sejarah Irak, Mosul sekarang bebas dari umat Kristen."

    Mosul jatuh ke tangan ISIS setelah serangan ofensif bulan lalu. Saat itu beredar kabar mengenai opsi yang akan diterapkan bagi kaum Kristen, yaitu boleh tetap tinggal di Mosul dengan membayar pajak khusus, pindah agama, meninggalkan kota itu, atau dibunuh.

    "Kami terkejut oleh pernyataan bahwa kami harus berpindah agama, atau untuk membayar upeti yang tidak ditentukan, atau meninggalkan kota dengan hanya membawa pakaian yang melekat dan tidak ada bagasi, dan bahwa rumah kemudian akan disita oleh ISIS," kata Sako.

    Dalam beberapa hari terakhir, di rumah-rumah umat Kristen diberi tanda huruf "N" yang berarti "Nassarah", istilah yang mengacu pada orang-orang Kristen. Meski begitu, ISIS belum mengambil tindakan lebih lanjut.

    AL ARABIYA | INDAH P


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.