Belum Jelas Siapa Pemilik Rudal Penghancur MH17

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Misil Buk-M1-2 yang dapat melontarkan rudal dari darat ke udara ini diduga menjadi penyebab jatuhnya pesawat Malaysian Airlines MH17 di Donetsk, Ukraina. Wikimedia.org

    Misil Buk-M1-2 yang dapat melontarkan rudal dari darat ke udara ini diduga menjadi penyebab jatuhnya pesawat Malaysian Airlines MH17 di Donetsk, Ukraina. Wikimedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Pejabat Ukraina menyebut bahwa MH17 ditembak oleh roket yang diluncurkan oleh separatis pro-Rusia yang berada di Donetsk. Namun, Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan roket itu berasal dari militer Ukraina. Bahkan, pihak Rusia menyebut sistem rudal Buk milik Ukraina dilengkapi dengan 27 peluncur yang mampu menembak jet yang terbang tinggi, seperti MH17.

    "BUK-M1 memiliki karateristik teknis dan taktis yang mampu mendeteksi target di udara pada kisaran hingga 160 kilometer dan bisa mengenai sasaran dalam jarak lebih dari 30 kilometer," kata pihak Kementerian itu, seperti dilaporan oleh RT. (Baca: Abbot: MH17 Ditembak Pemberontak Pro-Rusia)

    Sebelumnya, media Itar-Tass dan Interfax mengatakan sistem baterai pada Buk bahkan sedang dipersiapkan untuk dikirim dari Kharkov ke Donetsk. Namun, seorang sumber membantah bahwa kelompok separatis pro-Rusia memiliki senjata semacam itu.

    Dengan ketinggian lebih dari 10 ribu kaki, pesawat hanya bisa ditembak dengan misil S-300 atau Buk. Menurut laporan dari Ukraina, MH17 memang berada di ketinggian 32 ribu kaki.

    Pilot dan ahli penerbangan Yury Karash memprediksi MH17 mungkin jatuh akibat sistem pertahanan anti-pesawat di Ukraina. "Saya tidak tahu siapa yang menembak pesawat itu. Tapi, kuat dugaan bahwa tembakan berasal dari angkatan bersenjata Ukraina," kata Karash.

    Di sisi lain, media barat menyebut bahwa tembakan itu berasal dari pasukan pertahanan di Republik Donetsk.  Namun, Perdana Menteri untuk Republik Donetsk Sergey Kavtaradze menjelaskan bahwa tembakan itu berasal dari militer Ukraina. (Baca: Percakapan Pemberontak Usai Tembak Jatuh MH17)

    "Kami tidak memiliki sistem pertahanan udara seperti itu. Sistem pertahanan udara kami hanya bisa melakukan tembakan dengan jarak 3.000-4.000 meter, sedangkan MH17 berada di ketinggian jauh dari jangkauan kami," kata Kavtaradze.

    Direktur Proyek Pertahanan dan Intelijen di Belfer Center of Science and Internasional Affairs di Amerika Serikat, Brigadir Jenderal Kevin Ryan menjelaskan tidak mudah untuk menggunakan Buk, apalagi untuk orang yang tidak berpengalaman.

    "Dibutuhkan banyak latihan untuk menggunakan Buk karena butuh koordinasi yang akurat. Ini jelas bukan senjata 'gampangan'. Hanya militer profesional yang bisa mengoperasikannya," kata Ryan.

    RINDU P. HESTYA | RT

    Berita Lain:

    Pesawat Malaysia Airlines Jatuh di Ukraina
    Penumpang MH17 Punya Firasat Bakal Celaka
    Ada 11 WNI di Malaysia Airlines MH17


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?